KUALA LUMPUR | PASESATU.COM– Ribuan kilometer dari Aceh, lantunan selawat menggema di Dewan MPKJ, Taman Mesra, Kajang, Kuala Lumpur, Sabtu (7/11/2026). Di tengah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, masyarakat Aceh yang bermukim di Malaysia menengadahkan tangan, memanjatkan doa untuk saudara mereka di kampung halaman.
Di antara doa yang dipanjatkan, ada satu nama yang terus hadir dalam ingatan: Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh.
Baca Juga
Insiden di Pidie Tewaskan Satu Warga, GAB Desak Penyelidikan
Kabar penembakan yang terjadi di gampong tersebut pada Rabu (4/11/2026), yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka, menyisakan duka bagi masyarakat Aceh, termasuk mereka yang sedang menjalani kehidupan di perantauan.
Jarak geografis memang memisahkan mereka dari kampung halaman. Namun, kabar kehilangan dan penderitaan yang dialami warga Pulo Keunari seolah mendekatkan kembali ingatan mereka kepada tanah kelahiran.
Peringatan Maulid Nabi yang semestinya menjadi momentum mempererat silaturahmi dan merayakan kecintaan kepada Rasulullah SAW, kali ini juga menjadi ruang untuk menyampaikan empati dan solidaritas kepada sesama masyarakat Aceh yang sedang menghadapi musibah.
Ketua Panitia Maulid, Teuku Saiful, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga momentum untuk mendoakan masyarakat Aceh, khususnya keluarga korban peristiwa penembakan di Pulo Keunari.
“Semoga Allah SWT memberikan kesabaran yang tiada batas, menguatkan hati keluarga korban, serta mengangkat beban kesedihan mereka,” ujar Teuku Saiful kepada Pase Satu melalui sambungan telepon.
Ia juga berharap warga yang mengalami luka-luka segera memperoleh pertolongan dan dapat kembali pulih.
“Semoga mereka mendapatkan perlindungan, bantuan yang mencukupi dan segera pulih. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada mereka yang sedang menghadapi ujian berat ini,” katanya.
Maulid Menjadi Ruang Merawat Persaudaraan
Bagi masyarakat Aceh di Malaysia, kehidupan di negeri orang bukan perkara mudah. Jauh dari keluarga, kampung halaman, dan lingkungan tempat mereka dibesarkan, membuat ikatan sesama perantau memiliki arti tersendiri.
Dalam situasi seperti itulah kebersamaan menjadi penting. Maulid Nabi bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kesempatan untuk mempertemukan kembali orang-orang yang memiliki akar budaya, bahasa, dan kerinduan yang sama.
Teuku Saiful mengatakan, nilai-nilai Maulid harus diwujudkan melalui tindakan nyata, terutama dalam membantu saudara yang sedang mengalami kesulitan.
“Mari kita jadikan spirit Maulid Nabi yang penuh kasih sayang dan kepedulian sebagai dorongan untuk saling membantu dan menguatkan mereka yang sedang menghadapi kesulitan,” ujarnya.
Kegiatan tersebut dihadiri masyarakat Aceh dari berbagai komunitas di Malaysia. Di antaranya Grup Koper, Grup Aceh Meutuah, Grup Aceh Bersatu, Grup Aceh Malaya, Grup Operator Excavator, hingga Grup Operab.
Mereka datang dengan latar belakang pekerjaan dan kehidupan yang berbeda. Ada yang bekerja di berbagai sektor, ada pula yang telah lama membangun kehidupan di negeri jiran.
Namun, dalam pertemuan itu, perbedaan tersebut tidak menjadi sekat. Mereka dipertemukan oleh identitas dan ikatan persaudaraan sebagai sesama orang Aceh.
Suasana kebersamaan semakin terasa ketika panitia melaksanakan pemberian santunan kepada anak-anak yatim. Kegiatan sosial tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kepedulian dan memperkuat solidaritas di tengah masyarakat perantauan.
Sesama Perantau Menjadi Keluarga Terdekat
Bendahara Grup Aceh Bersatu (GAB), Ida Goeltom, menilai persaudaraan masyarakat Aceh di perantauan tidak seharusnya hanya terjalin ketika ada acara besar atau perayaan keagamaan.
Menurut dia, kebersamaan justru harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika ada anggota komunitas yang menghadapi kesulitan.
Baca Juga
Amnesty International Indonesia Kecam Penembakan di Pidie, Soroti Dugaan Pelanggaran HAM
“Di tanah perantauan, sesama perantau adalah keluarga terdekat secara geografis. Ketika ada yang sakit atau tertimpa musibah mendadak, merekalah yang pertama kali bisa membantu sebelum keluarga dari kampung halaman datang,” ujar Ida.
Pernyataan itu menggambarkan realitas kehidupan masyarakat perantauan. Ketika seseorang jatuh sakit, kehilangan pekerjaan, atau menghadapi persoalan mendadak, orang-orang di sekitarnya sering kali menjadi tempat pertama untuk meminta pertolongan.
Karena itu, Ida mengingatkan pentingnya menjaga komunikasi dan silaturahmi di antara sesama warga Aceh di Malaysia.
Kepedulian, menurut dia, tidak cukup diwujudkan melalui pertemuan seremonial. Persaudaraan perlu dirawat dengan saling menanyakan kabar, membantu ketika ada yang kesulitan, serta hadir ketika musibah menimpa salah seorang anggota komunitas.
“Kebersamaan saat Maulid adalah puncak perayaan. Tetapi kepedulian sehari-hari adalah fondasi persaudaraan,” demikian pesan yang disampaikan Ida.
Aceh Tetap Menjadi Rumah
Di bawah langit Kajang, selawat terus dilantunkan. Doa-doa dipanjatkan, sementara silaturahmi terjalin di antara masyarakat Aceh yang selama ini menjalani kehidupan jauh dari tanah kelahiran.
Namun, di balik suasana religius dan kebersamaan tersebut, kabar duka dari Pulo Keunari menjadi pengingat bahwa hubungan dengan kampung halaman tidak pernah benar-benar terputus.
Bagi para perantau, Aceh bukan sekadar tempat asal. Di sanalah keluarga, kenangan masa kecil, dan akar kehidupan mereka berada.
Peristiwa yang menimpa warga Pulo Keunari membuat kerinduan itu bercampur dengan kecemasan dan kesedihan. Mereka berharap keluarga korban diberi ketabahan, sementara warga yang terluka segera memperoleh kesembuhan.
Maulid Nabi tahun ini pun menghadirkan pesan yang lebih luas tentang makna persaudaraan. Bahwa kasih sayang tidak berhenti pada ucapan, kepedulian tidak cukup hanya melalui doa, dan solidaritas semestinya diwujudkan dalam tindakan nyata.
Baca Juga
Yusril Minta Penembakan di Pidie Diusut, Pemerintah Cari Solusi Polemik Bendera Aceh
Pulo Keunari mungkin berjarak ribuan kilometer dari Kajang. Namun, bagi masyarakat Aceh di Malaysia, penderitaan saudara di kampung halaman bukanlah sesuatu yang jauh.
Jarak boleh memisahkan tubuh dari tanah kelahiran. Namun, ketika Aceh berduka, ikatan persaudaraan tetap hidup melalui doa, kepedulian, dan harapan agar kedamaian kembali menyelimuti tanah yang mereka rindukan.***

Tinggalkan Balasan