 |
| Ayah Oet bersama tim dan relawan saat penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak banjir Aceh pada November 2025. Di tengah situasi sulit, kepedulian dan gotong royong menjadi bagian penting dalam meringankan beban warga. |
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Jalan rusak, genangan air, dan gelondongan kayu yang berserakan menjadi gambaran perjalanan menuju wilayah terdampak banjir di Aceh Utara pada akhir November 2025. Di tengah akses yang sulit dan sejumlah desa yang terisolasi, Teuku Oetman alias Ayah Oet memilih tetap bergerak. Ia ingin melihat sendiri keadaan masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
Bukan sekadar mendengar kabar dari kejauhan. Bukan hanya menerima laporan tentang rumah-rumah yang terendam dan warga yang kesulitan mendapatkan bantuan. Ayah Oet ingin hadir langsung, menembus keterbatasan akses untuk menjangkau mereka yang membutuhkan pertolongan.
Pada hari kelima setelah banjir melanda Aceh, anggota DPRK Aceh Utara dua periode dari Fraksi Partai Aceh (PA) itu mendatangi sejumlah kawasan terdampak, termasuk pedalaman Kecamatan Langkahan.
Bersama bantuan yang dibawanya dan tim medis dari Provinsi Jawa Barat, ia menempuh perjalanan menuju kawasan yang aksesnya masih terganggu akibat bencana. Jalan terjal, genangan air, serta gelondongan kayu yang berserakan menjadi hambatan. Desa Buket Linteung menjadi salah satu gambaran beratnya medan yang harus dihadapi untuk mencapai wilayah terdampak.
Di tengah keadaan itu, perjalanan bukan lagi sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada masyarakat yang menunggu perhatian, ada kebutuhan yang harus dijangkau, dan ada kenyataan pahit yang perlu dilihat langsung.
 |
| Kilas balik banjir Aceh, November 2025. Ayah Oet menerobos jalan berlumpur dan genangan air dengan sepeda motor untuk menjangkau masyarakat terdampak di pedalaman. Sulitnya akses tak menyurutkan langkahnya untuk melihat langsung kondisi warga yang membutuhkan bantuan. |
Bagi Ayah Oet, melihat kondisi warga dengan mata sendiri memiliki arti yang berbeda dibandingkan sekadar mendengar cerita. Ia ingin hadir di tengah masyarakat yang sedang berjuang melewati hari-hari sulit setelah banjir.
Ironisnya, ia sendiri bukan orang yang sepenuhnya terbebas dari dampak musibah. Ia mengakui bahwa dirinya dan masyarakat di wilayah lain juga ikut menjadi korban bencana. Namun, keadaan tersebut tidak menghilangkan dorongannya untuk mendatangi warga yang membutuhkan bantuan.
“Saya ingin melihat langsung anak-anak bangsa dan kawan-kawan seperjuangan yang sedang ditimpa musibah,” ujarnya ketika mengenang kembali perjalanan itu, Selasa (27/10/2026).
Kalimat tersebut disampaikannya saat ditemui awak media Pase Satu di kediamannya, Desa Sama Kurok, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Seusai menunaikan salat Ashar, ia menceritakan kembali pengalaman yang hingga kini masih meninggalkan kesan mendalam.
Matanya berkaca-kaca.
Ada kesedihan yang belum sepenuhnya hilang ketika ia mengingat masyarakat yang harus menghadapi bencana, sementara akses dan keadaan di sekitar mereka belum sepenuhnya pulih.
“Apa yang saya lakukan hanya karena terpanggil dari hati nurani. Saya ingin melihat langsung anak-anak bangsa dan kawan-kawan seperjuangan yang sedang ditimpa musibah, meskipun kita sendiri juga ikut menjadi korban musibah,” tuturnya.
Bagi Ayah Oet, kehadiran di tengah masyarakat bukan perkara pencitraan ataupun semata-mata kewajiban seorang wakil rakyat. Ia memandangnya sebagai panggilan untuk membantu sesama ketika keadaan sedang sulit.
Sebab, di tengah bencana, warga tidak hanya membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka juga membutuhkan kepastian bahwa penderitaan yang mereka alami tidak luput dari perhatian orang lain.
Langkahan Bukan Dapilnya, tetapi Warganya Saudaranya
Ada satu hal yang membuat perjalanan Ayah Oet ke pedalaman Langkahan terasa lebih bermakna: wilayah itu bukan bagian dari daerah pemilihannya.
Sebagai anggota DPRK Aceh Utara dari Dapil VI, ia bisa saja membatasi perhatiannya pada wilayah yang secara politik menjadi tanggung jawab keterwakilannya. Namun, ketika banjir melanda, ia memilih melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Baginya, musibah tidak mengenal batas dapil. Air yang merendam rumah warga tidak memilih siapa yang tinggal di wilayah politik tertentu. Kesulitan yang dirasakan masyarakat juga tidak berkurang hanya karena mereka berada di luar daerah pemilihan seorang wakil rakyat.
“Meskipun Kecamatan Langkahan bukan dapil saya, tetapi dalam musibah banjir ini, mereka semua saudara kita,” katanya.
Pernyataan itu menjadi inti dari tindakannya. Ia tidak datang karena masyarakat Langkahan merupakan konstituennya, melainkan karena mereka adalah sesama warga Aceh yang sedang membutuhkan pertolongan.
Di tengah bencana, batas administratif semestinya tidak menjadi tembok yang memisahkan kepedulian. Ketika sebagian masyarakat kesulitan menjangkau bantuan, justru saat itulah solidaritas diuji.
Langkah Ayah Oet untuk mendatangi wilayah terdampak menjadi bagian dari upaya tersebut. Ia membawa bantuan, melihat langsung keadaan masyarakat, dan berusaha menjangkau warga di tengah keterbatasan yang ada.
Ia menyadari bahwa satu perjalanan tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan. Namun, baginya, keterbatasan jangkauan bukan alasan untuk tidak berbuat apa-apa.
Ketika Kepedulian Berlanjut Menjadi Pelayanan
Upaya membantu warga tidak berhenti pada kunjungan ke Langkahan dan Tanah Jambo Aye. Ayah Oet juga menugaskan timnya untuk mendampingi tim medis dari Jawa Barat menuju Desa Meunasah Sagoe, Kecamatan Seunuddon, guna membantu pelaksanaan pengobatan massal bagi masyarakat terdampak banjir.
Ia tidak dapat hadir langsung dalam kegiatan tersebut karena ada keperluan lain. Meski demikian, ia berupaya memastikan timnya tetap mendampingi tenaga kesehatan agar pelayanan kepada masyarakat dapat terlaksana.
 |
| Tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dalam kegiatan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak banjir Aceh. Ayah Oet turut mengupayakan pendampingan tim medis agar pelayanan kesehatan dapat menjangkau warga yang membutuhkan. |
Dalam situasi pascabanjir, pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan yang tidak kalah penting. Warga yang sakit tetap membutuhkan pengobatan, sementara akses yang terganggu dapat menyulitkan mereka menjangkau fasilitas medis.
Kehadiran tim medis menjadi bagian dari upaya meringankan beban masyarakat. Di tengah kesulitan, pelayanan yang diberikan juga menunjukkan bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui kerja bersama.
Ayah Oet tidak menutup mata terhadap keterbatasan bantuan yang tersedia. Ia menyadari belum semua masyarakat dapat dijangkau dan belum seluruh kebutuhan bisa dipenuhi.
“Semua yang saya lakukan ini, meskipun belum bisa merata untuk semuanya, benar-benar karena terpanggil dari hati nurani. Saya hanya mengharapkan rida Allah SWT,” ungkapnya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada tim medis dari Jawa Barat dan seluruh pihak yang telah membantu upaya kemanusiaan tersebut.
“Terima kasih kepada Tim Medis Jawa Barat dan rekan-rekan yang sudah membantu. Semoga segala kebaikan ini dibalas oleh Allah SWT,” katanya.
Banjir Surut, Perjuangan Warga Belum Berakhir
Banjir besar yang melanda Aceh pada akhir November 2025 telah berlalu, tetapi dampaknya meninggalkan pekerjaan panjang bagi masyarakat dan pemerintah. Kerusakan infrastruktur, rumah warga, serta sumber penghidupan membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Ayah Oet berpandangan bahwa kepedulian terhadap korban bencana tidak boleh berhenti ketika air mulai surut. Masyarakat tetap membutuhkan dukungan untuk membangun kembali rumah, memulihkan mata pencaharian, dan menjalani kehidupan secara lebih baik.
Ia mengapresiasi upaya Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, yang akrab disapa Ayah Wa, dalam menangani dampak banjir dan mendorong pemulihan wilayah terdampak.
Ia juga berharap pembangunan hunian tetap (huntap) dan penyaluran jaminan hidup (jadup) bagi masyarakat yang memenuhi kriteria penerima terus dikawal agar pelaksanaannya sesuai kebutuhan warga.
Menurutnya, pemulihan tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah, wakil rakyat, relawan, dan masyarakat perlu bergandengan tangan agar warga terdampak dapat kembali menata kehidupan mereka.
Sebab, bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal atau sumber penghidupan, pemulihan bukan sekadar menunggu bantuan datang. Mereka membutuhkan kesempatan untuk kembali bekerja, menjalani kehidupan dengan aman, dan menatap masa depan.
Sebuah Perjalanan, Sebuah Pengingat
Hampir setahun setelah banjir itu, Ayah Oet kembali mengingat perjalanan menuju kawasan terdampak. Jalan yang sulit dilalui, akses yang terganggu, dan masyarakat yang harus menghadapi musibah menjadi bagian dari pengalaman yang tidak mudah dilupakan.
Namun, dari semua yang ia kenang, ada satu hal yang terus ia pegang: membantu sesama tidak seharusnya dibatasi oleh kepentingan politik ataupun wilayah keterwakilan.
Ia tahu bahwa bantuan yang diberikan belum tentu menjangkau semua orang. Ia juga memahami bahwa persoalan pascabencana tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kunjungan. Tetapi, ia memilih untuk hadir dan melakukan apa yang bisa dilakukan.
Saat kembali mengenang pengalaman tersebut, matanya berkaca-kaca. Di balik sikapnya sebagai seorang wakil rakyat, tampak kesedihan seorang manusia ketika melihat sesamanya menghadapi kesulitan.
“Mereka semua saudara kita.”
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan yang disampaikan dalam sebuah wawancara. Kalimat itu merangkum alasan mengapa ia bersedia menembus sulitnya akses menuju wilayah terdampak, meskipun kawasan tersebut bukan bagian dari daerah pemilihannya.
Banjir November 2025 kini menjadi kenangan, tetapi pesan kemanusiaan dari peristiwa itu tetap hidup. Ketika bencana memisahkan keluarga, merusak rumah, dan memutus akses kehidupan, kepedulian dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kembali harapan.
Bagi Ayah Oet, saudara bukan hanya mereka yang tinggal berdekatan atau memilih wakil rakyat yang sama. Saudara adalah mereka yang, ketika ditimpa musibah, tidak boleh dibiarkan menghadapi penderitaannya sendirian.
Dan terkadang, kepedulian dimulai dari langkah sederhana: bersedia datang, melihat langsung, dan mengulurkan tangan ketika sesama sedang membutuhkan.***
Editor : Syahrul Usman