ACEH UTARA | PASESATU.COM – Bagi sebagian orang, barang-barang yang terseret arus banjir mungkin hanya tumpukan rongsokan yang tak lagi berguna. Namun, bagi Khadijah, benda-benda itu menyimpan harapan. Dari besi tua, plastik, kardus, hingga peralatan rumah tangga bekas, ia berusaha mengumpulkan sedikit demi sedikit rezeki untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Banjir memang telah berlalu. Bantuan untuk korban juga sudah diterima. Namun, bagi Khadijah, perjuangan untuk kembali menjalani kehidupan belum selesai. Lumpur mungkin mulai mengering, tetapi kebutuhan keluarga terus berjalan.
Di tengah keterbatasan itulah Khadijah memilih untuk tidak berdiam diri. Ia menyusuri sisa-sisa material yang terbawa banjir, mengumpulkan barang yang masih memiliki nilai jual, lalu memilahnya untuk dijual kembali.
Hasilnya mungkin tidak seberapa. Namun, setiap rupiah yang diperoleh memiliki arti besar bagi keluarganya. Ada uang jajan anak yang harus disiapkan, kebutuhan sehari-hari yang perlu dipenuhi, serta biaya agar anak-anaknya tetap bisa pergi mengaji.
“Alhamdulillah, bantuan banjir sudah kami dapat. Namun, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kami tetap harus berusaha sendiri. Hasil dari mengumpulkan barang bekas ini setidaknya bisa membantu kebutuhan hidup, uang jajan anak sekolah, dan keperluan pergi mengaji,” tuturnya, Sabtu (31/10/2026).
Bagi Khadijah, pekerjaan itu bukan semata-mata tentang mencari uang. Ada tanggung jawab seorang ibu yang ingin memastikan anak-anaknya tetap menjalani kehidupan seperti biasa, meski keluarga mereka baru saja melewati musibah.
Ia tidak ingin keadaan menjadi alasan bagi anak-anaknya untuk kehilangan kesempatan belajar. Sekolah harus tetap berjalan, begitu pula kegiatan mengaji. Sebab, di tengah keadaan yang serba terbatas, pendidikan dan masa depan anak-anak tetap menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Di balik langkah sederhana mengumpulkan barang bekas, tersimpan keteguhan seorang ibu. Ia tidak menunggu keadaan sepenuhnya pulih untuk kembali berusaha. Apa yang masih bisa dimanfaatkan, itulah yang dikerjakannya.
Khadijah juga berharap masyarakat tidak buru-buru membuang barang-barang bekas yang tersisa setelah banjir. Besi tua, peralatan rumah tangga yang rusak, plastik, kardus, dan benda lainnya yang masih memiliki nilai jual, menurut dia, bisa dikumpulkan atau diberikan kepada warga yang membutuhkan.
“Harapan saya kepada warga lainnya, kalau ada barang-barang bekas sisa banjir yang tidak terpakai, jangan dibuang percuma. Siapa tahu masih bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai jual. Bagi kami, barang yang dianggap tidak berguna oleh orang lain bisa menjadi sedikit rezeki untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Harapan Khadijah sederhana. Ia ingin barang-barang yang tidak lagi digunakan orang lain dapat membantu warga yang masih berjuang memulihkan kehidupan setelah banjir. Baginya, kepedulian tidak selalu harus diwujudkan dalam bantuan besar. Memberikan barang yang sudah tidak terpakai pun bisa menjadi bentuk pertolongan yang berarti.
Kisah Khadijah memperlihatkan bahwa pemulihan pascabanjir bukan hanya tentang memperbaiki rumah yang rusak atau membersihkan lumpur yang tertinggal. Lebih dari itu, ada keluarga-keluarga yang harus kembali membangun penghidupan dari keadaan yang serba terbatas.
Bantuan memang dapat meringankan beban sesaat. Namun, kesempatan untuk bekerja, memperoleh penghasilan, dan mendapatkan dukungan dari sesama juga menjadi bagian penting agar masyarakat bisa bangkit.
Dari tumpukan barang bekas yang terseret arus, Khadijah mengajarkan arti keteguhan. Ia tidak melihat rongsokan sebagai akhir dari sebuah musibah, melainkan sebagai peluang kecil untuk kembali melangkah.
Sebab, bagi seorang ibu, perjuangan tidak berhenti ketika banjir surut. Selama anak-anak masih membutuhkan biaya sekolah, uang jajan, dan bekal untuk pergi mengaji, selama itu pula ia akan mencari jalan.
Dan bagi Khadijah, di antara barang-barang yang ditinggalkan banjir, masih ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang: harapan agar anak-anaknya tetap memiliki masa depan.***
Editor : Syahrul Usman

Tinggalkan Balasan