Blog

  • Kadisdikbud Aceh Utara Dr. Jamaluddin Ajak Masyarakat Teladani Akhlak Rasulullah di Hari Santri Nasional 2026

    Kadisdikbud Aceh Utara Dr. Jamaluddin Ajak Masyarakat Teladani Akhlak Rasulullah di Hari Santri Nasional 2026

    ACEH UTARA | PASESATU.COM — Dalam semangat memperingati Hari Santri Nasional 2026, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Utara, Dr. Jamaluddin, S.Sos., M.Pd., menyampaikan ucapan selamat Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober.

    Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan, sekaligus memperkuat nilai-nilai keislaman, akhlakul karimah, serta semangat menuntut ilmu demi masa depan bangsa.

    Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, Hari Santri Nasional 2026 mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan ilmu pengetahuan, iman, ketakwaan, dan akhlak mulia sebagai fondasi dalam membangun generasi penerus bangsa.

    Santri bukan hanya mereka yang belajar di pondok pesantren, tetapi juga menjadi teladan dalam menjaga adab, menghormati guru, berbakti kepada orang tua, serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

    Dalam ajaran Islam, menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebaikan. Karena itu, semangat Hari Santri hendaknya tidak berhenti pada seremoni atau penggunaan pakaian khas santri, melainkan diwujudkan melalui perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an dan sunah Rasulullah Muhammad SAW.

    Generasi muda diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, beriman, berakhlak mulia, disiplin, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari kecerdasan dan kemajuan teknologi, tetapi juga dari keluhuran budi pekerti masyarakatnya.

    Peringatan Hari Santri Nasional juga menjadi pengingat bahwa ulama dan santri memiliki peran penting dalam menjaga persatuan, merawat kerukunan, serta menanamkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

    Melalui momentum ini, diharapkan seluruh masyarakat, khususnya generasi muda di Kabupaten Aceh Utara, semakin mencintai ilmu, memuliakan guru, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam perkataan maupun perbuatan.

    Selamat Hari Santri Nasional 2026. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan kepada para ulama, guru, santri, dan seluruh generasi penerus bangsa agar mampu mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan umat, agama, dan negara.

    Santri kuat dalam iman, mulia dalam akhlak, luas dalam ilmu, serta teguh mengabdi untuk negeri.***

    Editor : Syahrul Usman

  • Sayuti Achmad Sambangi Lima Kabupaten di Barat Selatan Aceh, Bawa Gagasan Pembaruan PWI

    Kunjungan silaturahmi Sayuti Achmad bersama rombongan disambut dalam suasana penuh keakraban oleh rekan-rekan wartawan PWI Nagan Raya. Kebersamaan ini menjadi momentum untuk bertukar gagasan, menyerap aspirasi, serta memperkuat solidaritas demi mewujudkan PWI Aceh yang lebih maju, solid, dan semakin peduli terhadap anggotanya di daerah. Dok Ist

    BANDA ACEH | PASESATU.COM – Calon Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh periode 2026–2031, Sayuti Achmad, melakukan kunjungan silaturahmi ke sejumlah daerah di wilayah pantai barat selatan Aceh. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan dengan para wartawan sekaligus menyerap aspirasi terkait arah organisasi ke depan.

    Perjalanan dimulai dari Banda Aceh pada Selasa, 20 Oktober 2026. Dalam kunjungan tersebut, Sayuti bersama rombongan menyambangi sejumlah pengurus dan anggota PWI di wilayah barat selatan.

    Sayuti mengatakan, kunjungan itu dilakukan untuk menjaga kedekatan dengan rekan-rekan seprofesi yang berada di daerah.

    “Tujuan kami bersilaturahmi dengan teman-teman dan sahabat di kawasan pantai barat selatan,” ujar Sayuti.

    Dari pertemuan yang berlangsung di beberapa kabupaten, ia mengaku menerima beragam masukan mengenai harapan anggota terhadap kepemimpinan PWI Aceh mendatang. Menurutnya, para wartawan daerah menginginkan organisasi yang semakin berkembang, dengan kebijakan yang mengutamakan kepentingan anggota secara menyeluruh.

    Ia menyampaikan bahwa aspirasi yang diterimanya menekankan pentingnya perubahan agar PWI Aceh semakin maju dan tidak berorientasi pada kepentingan pribadi.

    Dalam kesempatan tersebut, Sayuti turut memaparkan sejumlah gagasan yang ingin diterapkan apabila mendapat amanah memimpin PWI Aceh. Salah satu usulannya adalah membebaskan anggota dari biaya perpanjangan kartu keanggotaan, dengan pembiayaan ditanggung oleh PWI Aceh.

    “Perpanjangan kartu anggota nantinya tidak perlu dipungut biaya karena akan ditanggung PWI Aceh,” katanya.

    Selain itu, ia berkomitmen untuk menghindari pola pembiayaan kegiatan organisasi yang memberatkan anggota. Sayuti menilai, kegiatan PWI seharusnya dapat berjalan tanpa membebani wartawan melalui permintaan donasi.

    “Prinsipnya, jangan sampai ada sistem donasi yang justru menjadi beban bagi anggota,” tegasnya.

    Aspirasi lain yang mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah harapan agar pimpinan PWI Aceh tetap menjaga komunikasi dengan anggota di kabupaten dan kota. Kehadiran pengurus, menurut mereka, sebaiknya tidak hanya terlihat menjelang pelaksanaan konferensi organisasi, tetapi juga dalam kegiatan dan kebutuhan anggota sehari-hari.

    Menanggapi hal itu, Sayuti menyatakan sependapat. Ia juga menegaskan pentingnya memberikan ruang partisipasi bagi wartawan dari berbagai daerah dalam agenda berskala nasional.

    Menurutnya, anggota dari daerah perlu mendapat kesempatan terlibat dalam kegiatan seperti Hari Pers Nasional (HPN) dan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas).

    Gagasan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upayanya membangun PWI Aceh yang lebih terbuka, merangkul anggota di seluruh wilayah, dan memberi perhatian terhadap kebutuhan wartawan daerah.

    Hingga Rabu, 21 Oktober 2026, rombongan Sayuti telah mengunjungi lima kabupaten di kawasan pantai barat selatan Aceh, yakni Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya (Abdya), dan Aceh Selatan.

    Dalam perjalanan tersebut, Sayuti didampingi sejumlah pendukung, dua mantan Ketua PWI Aceh, serta calon Ketua Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Aceh.

    Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Sayuti memperkenalkan gagasan dan menjalin komunikasi dengan anggota menjelang pemilihan Ketua PWI Aceh periode 2026–2031.***

  • Sambut Hari Pangan Sedunia 2026, Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara Gelar Gerakan Pangan Murah

    Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara, Mirza Gunawan, S.T., M.A.P.,
    Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara, Mirza Gunawan, S.T., M.A.P.,Dok UG

    ACEH UTARA | PASESATU.COM – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui Dinas Pertanian dan Pangan akan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini bertujuan membantu masyarakat memperoleh bahan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus memperingati Hari Pangan Sedunia 2026.

    Gerakan Pangan Murah tersebut akan berlangsung di halaman Kantor Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara. Sejumlah komoditas yang disediakan meliputi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga Rp60.000 per kemasan 5 kilogram serta minyak goreng Minyakita seharga Rp15.000 per liter.

    Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara, Mirza Gunawan, S.T., M.A.P., menyebutkan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga yang terjangkau.

    Sambut Hari Pangan Sedunia 2026, Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara Gelar Gerakan Pangan Murah

    Program ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan bahan pangan, terutama komoditas yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat, seperti beras dan minyak goreng.

    Pelaksanaan GPM Serentak di Aceh Utara bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 yang mengusung tema “Innovate Today. Nourish Tomorrow”, yang menekankan pentingnya inovasi saat ini untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan pada masa mendatang.

    Masyarakat yang ingin berbelanja dapat mendatangi halaman Kantor Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara pada Kamis (22/10/2026).

    Berikut rincian komoditas dan harga yang diumumkan:

    • Beras SPHP: Rp60.000 per kemasan 5 kilogram.
    • Minyak goreng Minyakita: Rp15.000 per liter.
    • Lokasi: Halaman Kantor Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara.
    • Jadwal: Kamis, 22 Oktober 2026.
    Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga sekaligus mendukung upaya menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga bahan pokok.***

  • Tanggul Jebol Sejak 2025, Sejumlah Gampong di Lhoksukon Kembali Terendam Banjir

    Anggota DPRK Aceh Utara, Marzuki, bersama aparatur gampong meninjau lokasi banjir yang merendam permukiman warga di Gampong Meunasah Dayah LT, Kecamatan Lhoksukon, Rabu (21/10/2026). Banjir diduga diperparah oleh tanggul sungai sepanjang sekitar 15 meter yang jebol sejak 2025 dan hingga kini belum diperbaiki. Foto: Syahrul/pasesatu

    ACEH UTARA | PASESATU.COM – Banjir kembali merendam sejumlah gampong di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (21/10/2026). Luapan air menggenangi permukiman warga dan badan jalan lintas Lhoksukon–Cot Girek. Kondisi ini diduga diperparah oleh tanggul sungai sepanjang sekitar 15 meter yang jebol sejak banjir pada 2025 dan belum diperbaiki.

    Sejumlah gampong yang terdampak cukup parah meliputi Meunasah Dayah LT, Krueng, Teungoh, dan Buloh LT. Di Gampong Meunasah Dayah LT, ketinggian air di dalam rumah warga dilaporkan mencapai 50 sentimeter hingga satu meter. Sebagian warga bahkan telah mengungsi untuk menghindari dampak banjir.

    Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara dari Partai PAS Aceh, Marzuki, meninjau lokasi banjir bersama aparatur gampong. Ia menyampaikan keprihatinan atas banjir yang berulang setiap kali hujan turun.

    “Setiap tahun, saat hujan turun, masyarakat di beberapa desa di sini selalu terdampak genangan. Kami sudah turun langsung ke lapangan dan melihat kondisinya cukup memprihatinkan,” ujar Marzuki saat diwawancarai di lokasi, Rabu (21/10/2026).

    Menurut Marzuki, kerusakan tanggul sepanjang sekitar 15 meter tersebut perlu segera ditangani karena berpotensi memperparah luapan air ke permukiman warga. Ia meminta pemerintah daerah memberikan perhatian serius dan mengupayakan perbaikan permanen untuk mengurangi risiko banjir berulang.

    Sementara itu, Kepala Dusun Gampong Meunasah Dayah LT, Ali Basyah, mengatakan kerusakan tanggul tersebut telah berlangsung sejak tahun lalu. Hingga banjir kembali terjadi, menurut dia, belum ada perbaikan yang dilakukan.

    “Setiap kali hujan turun di wilayah hulu, desa kami kembali terendam. Tanggul sudah jebol sejak setahun lalu dan belum diperbaiki. Ketinggian air di rumah warga berkisar setengah meter hingga satu meter, bahkan ada yang sudah mengungsi,” kata Ali.

    Ali menambahkan, warga bersama aparatur gampong telah berulang kali menyampaikan laporan mengenai kerusakan tanggul kepada pihak kecamatan dan kabupaten. Namun, menurut keterangannya, hingga kini belum ada tindakan perbaikan yang terlihat.

    Warga dan pihak legislatif berharap pemerintah segera mengambil langkah penanganan untuk mencegah banjir kembali meluas, terutama di gampong-gampong yang terdampak. Perbaikan tanggul dinilai penting untuk mengurangi risiko genangan apabila hujan kembali meningkatkan debit air sungai.

    Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan dari pihak pemerintah daerah atau instansi teknis terkait mengenai penyebab belum diperbaikinya tanggul tersebut maupun rencana penanganan selanjutnya.***

  • Sambut Hari Santri Nasional, Ayah Wa Imbau Masyarakat Kenakan Busana Putih-Hitam

    Sambut Hari Santri Nasional, Ayah Wa Imbau Masyarakat Kenakan Busana Putih-Hitam

    ACEH UTARA | PASESATU.COM — Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil atau yang akrab disapa Ayah Wa, mengimbau masyarakat Aceh, khususnya santri, keluarga santri, aparatur sipil negara (ASN), dan masyarakat umum, untuk mengenakan busana putih-hitam dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Santri Nasional pada Kamis (22/10/2026).

    Imbauan tersebut disampaikan pada Rabu (21/10/2026). Masyarakat diajak mengenakan peci putih, baju putih, serta sarung atau celana hitam sebagai simbol kebersamaan, kecintaan terhadap dunia pesantren, dan penghormatan kepada ulama.

    Peringatan Hari Santri Nasional di Aceh Utara dijadwalkan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB dan dipusatkan di Landing.

    Melalui momentum tersebut, masyarakat diharapkan dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah, menghidupkan semangat kesantrian, serta menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu agama dan akhlak mulia.

    Hari Santri Nasional juga menjadi pengingat atas perjuangan santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan, menegakkan keadilan, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Semangat kesantrian tidak hanya dimaknai sebagai identitas bagi mereka yang menimba ilmu di pondok pesantren, tetapi juga sebagai nilai kehidupan yang harus diterapkan oleh seluruh masyarakat, seperti keikhlasan, kedisiplinan, kesantunan, penghormatan kepada guru dan ulama, serta kepedulian terhadap sesama.

    Pakaian putih-hitam yang dikenakan bersama diharapkan menjadi simbol persatuan, kesederhanaan, dan kekompakan masyarakat dalam menyambut peringatan tersebut.

    Melalui peringatan Hari Santri Nasional, diharapkan lahir generasi Aceh yang berilmu, beriman, berakhlak mulia, serta mampu meneruskan perjuangan para ulama dalam membangun masyarakat yang religius, damai, dan bermartabat.

    Selamat Hari Santri Nasional. Semoga semangat santri senantiasa menjadi cahaya bagi umat, perekat persaudaraan, dan kekuatan dalam menjaga agama, bangsa, serta keharmonisan kehidupan bermasyarakat.***

    Editor : Syahrul Usman

  • Banjir Datang, Lumpur Tertinggal: Derita Warga Lhoksukon yang Tak Kunjung Berakhir

    Banjir Datang, Lumpur Tertinggal: Derita Warga Lhoksukon yang Tak Kunjung Berakhir

    ACEH UTARA | PASESATU.COM — Belum kering lumpur yang mengendap di lantai rumah, warga sudah kembali bersiap menghadapi banjir berikutnya. Perabotan yang baru dibersihkan belum tentu sempat tertata rapi ketika air kembali masuk. Begitulah kehidupan yang harus dijalani masyarakat di sejumlah desa di sepanjang Krueng Peuto, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara.

    Bagi warga di kawasan tersebut, banjir bukan lagi sekadar bencana musiman yang datang sesekali. Air yang meluap telah menjadi ancaman berulang, memaksa masyarakat berkali-kali membersihkan rumah, menyelamatkan barang-barang, hingga meninggalkan tempat tinggal demi mencari lokasi yang lebih aman.

    Sepanjang tahun ini, dilaporkan telah dilanda banjir hingga sekitar 15 kali. Frekuensi yang begitu tinggi membuat warga seolah tidak memiliki cukup waktu untuk memulihkan kehidupan sebelum bencana berikutnya kembali datang.

    Di balik penderitaan itu, ada persoalan yang hingga kini belum terselesaikan, tanggul sepanjang 15 meter yang jebol dan belum mendapatkan penanganan.

    Kepala Dusun Blang, Desa Dayah LT, Ali Basyah, mengungkapkan bahwa kerusakan tanggul tersebut menjadi salah satu penyebab banjir terus berulang di permukiman warga. Kondisi itu diperparah oleh tingginya intensitas hujan di wilayah hulu Krueng Peuto.

    “Tanggulnya jebol, 15 meter tanggul jebol. Sayang sekali masyarakat di sini, kadang-kadang hari ini sudah bersih, minggu depan sudah banjir lagi,” ujar Ali Basyah saat ditemui di lokasi banjir,Rabu (21/10/2026).

    Pernyataan itu menggambarkan betapa beratnya kehidupan masyarakat yang harus menghadapi bencana berkali-kali. Bagi mereka, membersihkan rumah bukan lagi pekerjaan yang hanya dilakukan setelah banjir besar, melainkan kegiatan yang bisa kembali terulang dalam hitungan hari.

    Setiap kali air datang, warga harus berhadapan dengan persoalan yang sama. Air menggenangi rumah, barang-barang rumah tangga terendam, sementara lumpur yang terbawa arus meninggalkan pekerjaan berat setelah banjir surut.

    Ketinggian air yang memasuki permukiman warga bervariasi, mulai dari sekitar setengah meter hingga lebih dari satu meter. Genangan setinggi itu tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga mengancam perabotan, perlengkapan rumah tangga, dan barang-barang lain yang menjadi kebutuhan keluarga.

    Penderitaan warga tidak berakhir ketika air mulai surut. Lumpur yang mengendap di dalam rumah dengan ketebalan kurang lebih setengah meter membuat proses pembersihan menjadi pekerjaan yang melelahkan.

    Lantai rumah harus dibersihkan kembali. Lumpur harus dikeluarkan, barang-barang yang basah perlu dikeringkan, sementara perabotan yang rusak atau tidak dapat digunakan lagi harus disingkirkan.

    Di tengah keterbatasan yang dihadapi, warga terpaksa mengerahkan tenaga untuk memulihkan kondisi rumah masing-masing. Namun, upaya itu terasa sia-sia ketika banjir kembali datang sebelum mereka benar-benar selesai membereskan dampak bencana sebelumnya.

    Situasi tersebut membuat masyarakat hidup dalam ketidakpastian. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi di wilayah hulu, kekhawatiran akan datangnya banjir kembali menghantui warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai.

    Sebagian warga bahkan terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman ketika air mulai menggenangi permukiman. Mereka harus meninggalkan rumah dan menghadapi ketidaknyamanan selama banjir berlangsung, sembari menunggu keadaan memungkinkan untuk kembali.

    Bagi keluarga yang rumahnya berulang kali terendam, banjir bukan hanya persoalan air yang masuk ke dalam bangunan. Bencana itu juga menyita waktu, tenaga, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan secara normal.

    Di tengah banjir yang terus berulang, kerusakan tanggul sepanjang 15 meter menjadi persoalan yang mendesak untuk ditangani.

    Tanggul yang belum diperbaiki membuat warga khawatir ancaman serupa akan terus menghampiri permukiman mereka. Terlebih, ketika hujan deras mengguyur wilayah hulu, debit air sungai dapat meningkat dan memperbesar risiko banjir di kawasan yang terdampak.

    Bagi masyarakat setempat, perbaikan tanggul bukan sekadar pekerjaan infrastruktur. Lebih dari itu, perbaikan tersebut merupakan kebutuhan mendasar agar warga dapat tinggal dengan lebih tenang, tanpa terus-menerus dibayangi ancaman air yang sewaktu-waktu memasuki rumah mereka.

    Warga membutuhkan perlindungan agar rumah yang telah dibersihkan tidak kembali dipenuhi lumpur. Mereka juga membutuhkan kepastian bahwa kerusakan yang selama ini dikeluhkan tidak dibiarkan berlarut-larut.

    Sebab, semakin lama tanggul dibiarkan dalam kondisi jebol, semakin panjang pula ketidakpastian yang harus ditanggung masyarakat.

    Persoalan ini, menurut Ali Basyah, bukan berarti tidak pernah disampaikan kepada pemerintah.

    Pihak pemerintah desa bersama kepala desa telah berupaya melaporkan kejadian banjir kepada pihak kecamatan maupun pemerintah kabupaten setiap kali bencana terjadi. Laporan tersebut diharapkan dapat mendorong penanganan, terutama terhadap tanggul yang rusak dan menjadi salah satu penyebab banjir berulang.

    Namun, hingga saat Ali Basyah memberikan keterangan, masyarakat mengaku belum melihat tindak lanjut nyata yang mereka harapkan.

    Di tengah kondisi tersebut, warga hanya bisa bertahan menghadapi banjir yang terus berulang. Mereka membersihkan rumah setiap kali air surut, menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan, dan bersiap menghadapi kemungkinan datangnya banjir berikutnya.

    Bagi masyarakat Desa Dayah LT dan kawasan di sepanjang Krueng Peuto yang terdampak, persoalan ini membutuhkan perhatian lebih dari sekadar pendataan dan pelaporan. Mereka menantikan tindakan nyata untuk mengatasi penyebab banjir agar penderitaan yang sama tidak terus berulang.

    “Harapan kita supaya pemerintah, ada perhatianlah untuk masyarakat kami,” kata Ali Basyah.

    Harapan itu sederhana: tanggul yang jebol segera diperbaiki, banjir tidak terus-menerus memasuki rumah, dan warga bisa kembali menjalani kehidupan tanpa dihantui kecemasan setiap kali hujan turun.

    Banjir yang dilaporkan terjadi hingga sekitar 15 kali dalam setahun menjadi gambaran beratnya beban yang harus ditanggung masyarakat. Ketika bencana datang berulang kali, kemampuan warga untuk memulihkan kondisi rumah dan kehidupan sehari-hari semakin terkuras.

    Pemerintah daerah diharapkan segera meninjau kondisi tanggul yang jebol sepanjang 15 meter tersebut, memastikan penyebab banjir, serta mengambil langkah penanganan yang diperlukan.

    Perbaikan tanggul menjadi salah satu kebutuhan mendesak yang disuarakan warga. Selain itu, diperlukan penanganan banjir secara menyeluruh di sepanjang Krueng Peuto agar masyarakat tidak terus menghadapi persoalan yang sama setiap kali hujan deras mengguyur wilayah hulu.

    Bagi warga, persoalan ini bukan semata-mata tentang tanggul yang rusak atau air yang menggenangi rumah. Ini tentang kehidupan yang berkali-kali terganggu, tenaga yang terus terkuras untuk membersihkan lumpur, dan rasa aman yang sulit didapatkan di rumah sendiri.

    Selama tanggul belum diperbaiki dan ancaman banjir masih membayangi, masyarakat akan terus hidup dalam penantian: menunggu air surut, membersihkan rumah, lalu berharap hujan berikutnya tidak kembali membawa penderitaan yang sama.

    Kini, warga berharap penantian itu tidak berlangsung lebih lama. Mereka membutuhkan kehadiran pemerintah dan langkah nyata agar rumah-rumah yang selama ini berkali-kali terendam dapat kembali menjadi tempat yang aman untuk berlindung.

    Dilaporkan akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah Aceh Utara pada Rabu malam (21/10/2026) menyebabkan jalan lintas Cot Girek–Lhoksukon, tepatnya di kilometer 5 hingga kilometer 6, terendam banjir. Ketinggian air di badan jalan diperkirakan mencapai 20 hingga 40 sentimeter.

    Selain menggenangi badan jalan, luapan Sungai Krueng Peuto juga merendam ratusan rumah warga di sejumlah desa, yakni Buloh LT, Meunasah Teungoh LT, Dayah LT, dan Krueng LT. ***

  • Banjir Rendam Jalan Lintas Cot Girek–Lhoksukon, Ratusan Rumah di Aceh Utara Tergenang

    ACEH UTARA | PASESATU.COM — Hujan lebat yang mengguyur wilayah Aceh Utara pada Rabu malam menyebabkan jalan lintas Cot Girek–Lhoksukon, tepatnya di kilometer 5 hingga kilometer 6, terendam banjir. Ketinggian air di badan jalan diperkirakan mencapai 20 hingga 40 sentimeter.

    Selain menggenangi badan jalan, luapan Sungai Krueng Peuto juga merendam ratusan rumah warga di sejumlah desa, yakni Buloh LT, Meunasah Teungoh LT, Dayah LT, dan Krueng LT. 

    Air mulai memasuki permukiman warga pada Rabu pagi. Kondisi ini mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengguna jalan yang melintasi jalur penghubung Cot Girek–Lhoksukon.

    Warga juga menghadapi persoalan tanggul Sungai Krueng Peuto yang dilaporkan putus di beberapa titik. Hingga kini, titik-titik kerusakan tersebut disebut belum mendapatkan penanganan serius dari pemerintah.

    Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan siaga cuaca untuk 21–22 Oktober 2026.

    Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat dan banjir susulan, serta berhati-hati saat melintasi ruas jalan yang masih tergenang air.***

  • Hujan Beberapa Malam, Sebaran Kabut Asap di Pusat Kota Panton Labu dan Jalinsum Medan–Banda Aceh Menghilang

    Hujan Beberapa Malam, Sebaran Kabut Asap di Pusat Kota Panton Labu dan Jalinsum Medan–Banda Aceh Menghilang

    ACEH UTARA | PASESATU.COM — Sebaran kabut asap yang sebelumnya menyelimuti Kota Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, terpantau menghilang setelah hujan mengguyur wilayah tersebut selama beberapa malam terakhir.

    Berdasarkan amatan media pada Rabu (21/10/2026), kondisi udara di dua lokasi, yakni pusat Kota Panton Labu dan jalan lintas Sumatera (Jalinsum) Medan–Banda Aceh, terlihat lebih bersih dari sebelumnya. Kabut asap yang sempat mengganggu aktivitas masyarakat dan pengguna jalan kini tidak lagi terlihat di kedua lokasi tersebut saat pemantauan dilakukan.

    Hujan yang turun selama beberapa malam terakhir diduga turut membantu mengurangi partikel asap dan debu yang berada di udara. Kondisi ini menjadi kabar melegakan bagi masyarakat, terutama setelah sebelumnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan dan kenyamanan beraktivitas.

    Selain masyarakat yang beraktivitas di pusat kota, kondisi udara yang lebih baik juga menjadi harapan bagi para pengendara yang melintasi Jalinsum Medan–Banda Aceh, mengingat jarak pandang yang baik sangat penting untuk keselamatan perjalanan.

    Meski demikian, masyarakat diimbau tetap waspada apabila kabut asap kembali muncul.

    Kondisi udara dapat berubah bergantung pada aktivitas kebakaran, arah angin, dan cuaca.

    Hilangnya kabut asap di sejumlah titik Panton Labu menjadi kelegaan tersendiri bagi warga.

    Namun, upaya pencegahan karhutla tetap diperlukan agar kualitas udara tetap terjaga dan masyarakat tidak kembali terpapar asap yang berisiko bagi kesehatan.***

    Editor : Syahrul Usman

  • Jaringan WiFi Lambat di Panton Labu, Aktivitas dan Produktivitas Masyarakat Terganggu

    Ilustrasi karikatur keluhan jaringan WiFi lambat di Panton Labu, Aceh Utara, menggambarkan wartawan dan masyarakat yang kesulitan mengakses internet, sehingga komunikasi, pencarian informasi, dan pekerjaan terganggu.

    ACEH UTARA | PASESATU.COM — Lambatnya jaringan WiFi di Kota Panton Labu dan sejumlah wilayah sekitarnya, Kabupaten Aceh Utara, dikeluhkan karena mengganggu aktivitas komunikasi, pencarian informasi, serta pekerjaan masyarakat yang bergantung pada koneksi internet stabil. Kondisi ini mendorong pengguna meminta penyedia layanan internet segera mengevaluasi kualitas jaringan.

    Keluhan tersebut disampaikan Mustajab, wartawan Lingkaran Polri, pada Rabu (21/10/2026). Menurutnya, koneksi internet yang lambat membuat pengguna kurang nyaman, terutama masyarakat yang memanfaatkan jaringan WiFi untuk menunjang pekerjaan sehari-hari.

    “Jaringan WiFi di Kota Panton Labu dan sekitarnya terasa lambat. Kondisi seperti ini tentu membuat pengguna kurang nyaman, apalagi bagi masyarakat yang membutuhkan internet untuk bekerja,” ujar Mustajab.

    Ia berharap penyedia layanan internet segera melakukan pemeriksaan dan evaluasi untuk mengetahui penyebab lambatnya koneksi sekaligus meningkatkan kualitas jaringan di wilayah tersebut.

    Masyarakat juga berharap perbaikan dapat segera dilakukan agar akses internet kembali stabil dan aktivitas digital berjalan optimal.

    Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari penyedia layanan internet mengenai penyebab lambatnya jaringan maupun langkah penanganan atas keluhan tersebut.***

    Editor : Syahrul Usman

  • Di Balik Sertifikat Ada Nilai Ekonomi

    Di Balik Sertifikat Ada Nilai Ekonomi

    BOYOLALI | PASESATU.COM  – Sertifikat tanah bukan sekadar dokumen bukti kepemilikan. Di balik legalitas tersebut, terdapat nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

    Hal itu tergambar dari kisah Parmono, peternak sapi perah asal Desa Banyunyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang diangkat Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) melalui akun media sosial resminya.

    Parmono selama ini memanfaatkan tanah yang dimilikinya untuk mendukung usaha peternakan sapi perah. Baginya, tanah bukan hanya aset keluarga, tetapi juga menjadi sumber penghidupan yang dapat diwariskan sekaligus dikembangkan untuk masa depan keluarganya.

    Dalam unggahan Kementerian ATR/BPN, Parmono mengungkapkan bahwa kepemilikan sertifikat tanah memberikan rasa aman dan kepastian hukum.

    Sebelum memiliki sertifikat, ia mengaku sempat merasa khawatir terhadap kemungkinan terjadinya sengketa dengan pihak lain. Namun, setelah tanah tersebut memiliki sertifikat hak milik atas namanya, kekhawatiran itu berkurang.

    “Dengan sertifikat hak milik atas nama sendiri, saya merasa lebih tenang,” demikian pernyataan Parmono yang dikutip dari unggahan Kementerian ATR/BPN.

    Tidak hanya memberikan kepastian atas kepemilikan tanah, sertifikat tersebut juga memiliki manfaat ekonomi. Menurut Parmono, dokumen legalitas tanah dapat menjadi modal ekonomi untuk mengembangkan usaha peternakan melalui akses pembiayaan perbankan.

    Kementerian ATR/BPN menilai sertifikat tanah memiliki manfaat yang lebih luas dari sekadar bukti kepemilikan. Legalitas aset tersebut dapat memberikan kepastian hukum, rasa aman, serta peluang bagi masyarakat untuk mengoptimalkan asetnya secara produktif.

    Kisah Parmono menjadi gambaran bahwa sertifikasi tanah dapat memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Ketika aset memiliki kepastian hukum dan dikelola secara produktif, tanah dapat menjadi salah satu penopang usaha sekaligus sumber penghidupan bagi keluarga.

    Kisah tersebut dibagikan Kementerian ATR/BPN melalui akun Instagram resminya pada 21 Oktober 2026 dalam rangkaian kampanye mengenai manfaat sertifikat tanah bagi masyarakat.***

    Editor : Syahrul Usman