Blog

  • Jasad Bocah yang Tenggelam di Krueng Pase Ditemukan di Laut Lhokseumawe

    Evakuasi jenazah
    Evakuasi jenazah korban. (Foto.Dok Polres Lhokseumawe) 

    “Mayat ditemukan mengapung sekitar 5 mil dari bibir pantai Ujung Blang”



    PASE SATU | LHOKSEUMAWE – Warga pesisir Ujung Blang, Kota Lhokseumawe, dikejutkan dengan penemuan sesosok mayat anak laki-laki yang mengapung di perairan pada Selasa (25/2/2025) siang. 

    Jasad tersebut diduga kuat merupakan Farhat Zulkifli (6), bocah asal Gampong Meunasah Mesjid, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, yang tenggelam di Sungai Krueng Pase sepuluh hari lalu.

    Penemuan jasad pertama kali dilaporkan oleh seorang nelayan kepada Panglima Laot Lhok Pusong, Kaharuddin. Informasi tersebut kemudian diteruskan ke Satuan Polisi Air dan Udara (Sat Polairud) Polres Lhokseumawe.

    Baca Juga :

    Kapolres Lhokseumawe, AKBP Henki Ismanto, melalui Kasi Humas Salman Alfarasi, menjelaskan bahwa jasad ditemukan sekitar pukul 12.15 WIB oleh Nahkoda KM Jeddah, Muli.

    “Mayat ditemukan mengapung sekitar 5 mil dari bibir pantai Ujung Blang,” kata Salman dalam keterangannya kepada wartawan.

    Mendapat laporan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari Sat Polairud Polres Lhokseumawe, BKO Dit Polairud Polda Aceh, dan SAR Kota Lhokseumawe segera bergerak ke lokasi menggunakan perahu karet milik Sat Polairud.

    “Tim tiba di lokasi sekitar pukul 14.45 WIB dan segera mengevakuasi jasad korban ke Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Pusong Lama. Selanjutnya, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Cut Meutia untuk proses identifikasi lebih lanjut,” ujar Salman.

    Berdasarkan informasi dari masyarakat, mayat yang ditemukan diduga merupakan Farhat Zulkifli, bocah yang tenggelam saat bermain di Sungai Krueng Pase pada Sabtu (15/2/2025) sore.

    Farhat adalah anak bungsu dari pasangan Zulkifli dan Welmina. Sejak kejadian, keluarga serta warga setempat telah berupaya mencari korban hingga larut malam. Pada Sabtu (22/2/2025) malam, sejumlah relawan dari Samalanga, Kabupaten Bireuen, turut bergabung dalam pencarian.

    Namun, operasi pencarian yang dilakukan oleh tim SAR dari Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Basarnas Bireuen harus dihentikan pada Rabu (19/2/2025), setelah lima hari menyisir sungai hingga ke muara sejauh 7 kilometer tanpa hasil.

    Saat ini, kepolisian masih berkoordinasi dengan pihak keluarga untuk proses identifikasi dan serah terima jenazah.

    “Proses evakuasi berjalan lancar. Saat ini kami menunggu hasil identifikasi sebelum menyerahkan jenazah kepada keluarga,” tambah Salman.

    Penemuan jasad ini mengakhiri pencarian panjang yang telah dilakukan oleh keluarga dan tim penyelamat. Duka mendalam menyelimuti keluarga korban yang harus merelakan kepergian putra bungsu mereka.***

  • Sinergi Polres Aceh Utara dan OPD, Gotong Royong Bersihkan Masjid Sambut Ramadhan

    Gotong Royong

    “Semangat kebersamaan dan gotong royong terus terjaga. Tidak hanya dalam menyambut Ramadhan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari”

    PASE SATU | ACEH UTARA – Menjelang bulan suci Ramadhan 1446 Hijriah, semangat kebersamaan dan gotong royong terpancar di Masjid Baiturrahim, Kota Lhoksukon. Polres Aceh Utara bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bahu-membahu membersihkan masjid, Selasa (25/2/2025).

    Kapolres Aceh Utara, AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., turun langsung bersama jajaran Polres, didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Utara, Dr. A. Murtala, M.Si., serta para kepala OPD dan masyarakat setempat. Kehadiran berbagai elemen ini mencerminkan sinergi kuat antara kepolisian, pemerintah daerah, dan warga dalam menjaga kebersihan tempat ibadah.

    Sejumlah OPD turut serta dalam kegiatan ini, termasuk Dinas PRKP, Dinas Kesbangpol, Dinas Pertanian, BPBD Kabupaten Aceh Utara, Dinas Disperindag, Dinas PUPR, Dinas Transnaker, Dishub, Dinas Stapan, DKP, serta Sisbunakeswan. Tak ketinggalan, Muspika Kecamatan Lhoksukon, geuchik, aparatur desa, dan pengurus BKM Masjid Baiturrahim ikut ambil bagian.

    Suasana penuh kebersamaan terasa sepanjang kegiatan. Semua peserta bekerja sama membersihkan pekarangan, mencabut rumput liar, hingga mengangkut sampah. Tidak ada sekat antara pejabat, aparat, dan warga—semua bergerak sebagai satu kesatuan dengan tujuan yang sama: menciptakan lingkungan masjid yang bersih dan nyaman untuk ibadah.

    Baca Juga :

    Kasi Humas Polres Aceh Utara, AKP Bambang, menegaskan bahwa gotong royong ini bukan hanya tentang kebersihan fisik, tetapi juga mempererat hubungan antara masyarakat dan aparat.

    “Kegiatan ini menunjukkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan kita. Dengan bekerja sama, kita tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga membangun solidaritas yang lebih kuat antara TNI, Polri, pemerintah, dan masyarakat,” ujarnya.


    Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan semangat kebersamaan dan gotong royong terus terjaga. Tidak hanya dalam menyambut Ramadhan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kerja sama seperti ini menjadi bukti bahwa kebersihan, keamanan, dan kenyamanan adalah tanggung jawab bersama.

    “Kita ingin menunjukkan bahwa sinergi antara masyarakat dan pemerintah bukan sekadar wacana, tetapi nyata dalam aksi. Semoga semangat gotong royong ini terus hidup dan menjadi budaya di tengah masyarakat,” pungkasnya.***

  • Tradisi Meugang di Aceh Utara: Pemkab Pastikan Harga Daging dan Sembako Stabil

    Sekda Aceh Utara

    “Memastikan harga tetap stabil dan stok mencukupi menjelang Meugang, saat masyarakat Aceh berbondong-bondong membeli daging sebagai bagian dari tradisi menyambut Ramadhan”

    PASE SATU | ACEH UTARA – Tradisi Meugang, yang menjadi momen penting bagi masyarakat Aceh dalam menyambut bulan suci Ramadhan, mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Untuk memastikan masyarakat dapat menjalani tradisi ini dengan tenang, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Utara, Dr. A Murtala, M.Si, bersama rombongan meninjau harga daging dan kebutuhan pokok di Pasar Kota Lhoksukon, Kecamatan Lhoksukon, Selasa (25/2/2025).

    Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan harga tetap stabil dan stok mencukupi menjelang Meugang, saat masyarakat Aceh berbondong-bondong membeli daging sebagai bagian dari tradisi menyambut Ramadhan. Sekda didampingi Plt. Asisten II Syamsul Rizal, ST., MSi, Camat Lhoksukon Fatwa Maulana, SSTP, serta unsur Muspika dan pejabat dari berbagai dinas terkait.

    Hasil pemantauan menunjukkan harga daging sapi masih di kisaran Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram, tanpa lonjakan yang mengkhawatirkan. Ketersediaan bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula juga dipastikan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadhan.

    Baca Juga :

    Dr. A Murtala menegaskan bahwa Pemkab Aceh Utara akan terus mengawasi pergerakan harga agar masyarakat dapat menjalani tradisi Meugang dengan nyaman. “Meugang bukan sekadar tradisi, tapi juga bagian dari identitas masyarakat Aceh. Kami ingin memastikan semua orang dapat merayakannya tanpa khawatir akan lonjakan harga,” ujarnya.


    Selain memantau harga daging, Sekda juga mengecek stok minyak goreng dan beras di beberapa toko, serta mengimbau para pedagang untuk tidak menimbun barang dan menjaga harga tetap stabil. “Kami harap pedagang ikut berperan dalam menjaga keseimbangan pasar agar masyarakat bisa merasakan tradisi Meugang dengan penuh kebahagiaan,” tambahnya.

    Dengan pengawasan yang ketat, Pemkab Aceh Utara berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga demi kelancaran Meugang dan Ramadhan yang lebih tenang bagi seluruh masyarakat.***

  • Sambut Ramadhan dan Dukung Program 100 Hari Kerja Bupati, ASN Pemkab Aceh Utara Gotong Royong Massal

    Sekda Aceh Utara

    “Kegiatan ini akan dilaksanakan di tiga lokasi berbeda yang telah dibagi ke dalam tiga kelompok kerja (Group A, B, dan C). Masing-masing kelompok terdiri dari berbagai OPD”

    PASE SATU | ACEH UTARA  —  Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mulai hari ini, Selasa 25 Febuari sampai Kamis 27 Febuari 2025, menggelegar kegiatan gotong royong massal di sejumlah titik dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1446 Hijriah serta mendukung program 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Aceh Utara.

    Kegiatan itu melibatkan unsur Forkopimda, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), hingga para tokoh masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan dan menata tempat ibadah agar lebih nyaman bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah selama Ramadhan.

    Berdasarkan jadwal gotong royong massal yang ditandatangani Sekda Aceh Utara, Dr. A. Murtala, M.Si, gotong royong itu berlangsung selama tiga hari, dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Setiap harinya, kegiatan ini akan dilaksanakan di tiga lokasi berbeda yang telah dibagi ke dalam tiga kelompok kerja (Group A, B, dan C). Masing-masing kelompok terdiri dari berbagai OPD, dengan pimpinan group yang telah ditunjuk.  

    Pada Selasa, 25 Februari 2025, gotong royong dilakukan di Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon, Masjid Baitul Atiq Gampong Geumata, dan Masjid Al Ikhlas Matang Ubi. Kemudian, pada Rabu, 26 Februari 2025, kegiatan berlanjut ke Masjid Raya Pasee, Masjid Baiturrahman Gampong Cempeudak, dan Masjid Baiturrahman Baktiya.

    Baca Juga :

     Sedangkan pada hari terakhir, Kamis, 27 Februari 2025, gotong royong dilakukan di Masjid Besar Bujang Salim Dewantara, Masjid Nurul Falah Muara Batu, dan Masjid Blang Panyang Meunasah Drang.  

    Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil atau yang yang akrab disapa Ayahwa dalam surat yang ditandatangani Sekda menyampaikan bahwa setiap OPD wajib mengikutsertakan 10 Aparatur Sipil Negara (ASN) beserta perlengkapan gotong royong. Selain itu, absensi akan diberlakukan guna memastikan keikutsertaan pegawai dalam kegiatan sosial ini.

    Kegiatan sosial ini sangat penting dilaksanakan, apalagi suasana menyambut bulan suci Ramadhan tentunya kebersihan merupakan bagian dari hal yang paling utama. Pada hari pertama, kegiatan ini dipimpin langsung oleh Sekda Dr. A. Murtala, M.Si, yang didampingi oleh Plt Asisten II Syamsul Rizal, ST., MSi, serta Camat Lhoksukon Fatwa Maulana, Asisten III Fauzan, SSos, MAP, dan Asisten I Dr Fauzan, SSTP, MPA.

    Seperti di Masjid Agung Baiturrahim, Kecamatan Lhoksukon, hari ini, tampak sejumlah pejabat turut hadir, termasuk Sekretaris DPRK Aceh Utara, Kadis Pertanian dan Pangan, Kadis Perkebunan, serta Kadis Kelautan dan Perikanan. Mereka bersama ASN dan masyarakat membersihkan area masjid agar lebih nyaman bagi jamaah yang akan melaksanakan ibadah selama bulan Ramadhan.  

    Sekda Aceh Utara berharap gotong royong ini dapat meningkatkan kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat, serta menciptakan lingkungan ibadah yang lebih bersih dan nyaman. “Ini adalah wujud kepedulian kita dalam menyambut bulan suci Ramadhan dengan semangat kebersamaan dan gotong royong,” ujar Dr. A. Murtala.  

    Dengan adanya kegiatan ini, Sekda berharap  masjid-masjid di Aceh Utara siap menyambut bulan penuh berkah, sehingga jamaah dapat beribadah dengan lebih khusyuk dan nyaman. Aksi gotong royong ini mencakup berbagai aspek kebersihan, seperti menjaga kesucian lantai dan perlengkapan shalat, membersihkan tempat wudhu, kamar mandi, halaman, pagar, serta melakukan penghijauan di lingkungan sekitar tempat ibadah.***

  • Aceh Utara Gemakan Syiar Al-Qur’an, MTQ ke-35 Kecamatan Tanah Luas Resmi Dibuka

    MTQ Kecamatan Tanag Luas

    “Kegiatan ini sebagai ajang seleksi untuk mencari bibit-bibit unggul untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an di hati masyarakat dan anak-anak”

    PASE SATU | ACEH UTARA – Kemeriahan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-35 tingkat Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, resmi dibuka dan siap menggema di wilayah tersebut. 

    Acara tahunan yang dinanti-nantikan ini berlangsung di Kantor Camat Tanah Luas pada tanggal 24 Februari 2024.

    MTQ tingkat kecamatan ini bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga merupakan wadah untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an. 

    Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi panggung untuk mencari dan mengasah bakat-bakat qari dan qariah terbaik yang nantinya akan mewakili Kecamatan Tanah Luas di kancah MTQ tingkat kabupaten, Provinsi, bahkan nasional.

    Camat Tanah Luas, Baktiar, SE, dalam sambutannya menyampaikan bahwa MTQ ini adalah agenda rutin tahunan yang memiliki tujuan mulia. “Kami berharap, melalui MTQ ini, semakin banyak generasi muda yang mencintai dan mendalami Al-Qur’an,” ujarnya.

    Selain itu, Baktiar, SE, juga menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai ajang seleksi untuk mencari bibit-bibit unggul untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an di hati masyarakat dan anak-anak di Tanah Luas.

     ”Para peserta yang tampil di sini adalah yang terbaik dari yang terbaik. Kami yakin, dari sini akan lahir qari dan qariah yang akan mengharumkan nama Kecamatan Tanah Luas di tingkat kabupaten,” tambahnya.

    MTQ ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga dan meningkatkan pemahaman serta pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. 

    Baca Juga :

    Dengan semangat kebersamaan, Kecamatan Tanah Luas siap menyambut dan menyukseskan gelaran MTQ yang penuh berkah ini.

    Sebanyak Ratusan peserta dari berbagai gampong di kecamatan Tanah Luas mengikuti berbagai cabang perlombaan, antara lain:

     Tartil, Tilawah, Qiraah Sabaah, Tahfidz, Syarhil, Fahmil, Khattil, MMQ (Musabaqah Menulis Al-Qur’an).

    Acara pembukaan berlangsung khidmat dan dihadiri oleh Kapolsek Tanah luas, para tokoh masyarakat, alim ulama, serta para peserta dan pendamping. Masyarakat setempat antusias menyaksikan setiap rangkaian acara dan memberikan dukungan kepada para peserta.

    Drs Tgk H.Hamdani A.Jalil. MA, selaku ketua LPTQ Tanah Luas dan ketua Panitia, menyampaikan tujuan dari MTQ ini adalah untuk mempersiapkan duta-duta yang akan mewakili Kecamatan Tanah Luas pada MTQ Kabupaten Aceh Utara tahun 2025. 

    Target yang dicanangkan adalah meraih posisi 3 besar, sesuai dengan arahan yang disampaikan oleh Sekda dan Kadis Syariat Islam dalam rapat koordinasi. 

    Selain itu, beliau juga mengumumkan bahwa Insya Allah, MTQ ke-36 tahun 2026 akan diselenggarakan di Tanah Luas, yang telah ditetapkan sebagai tuan rumah.

    “2026 tanah luas ditetapkan sebagai tuan rumah calon keluar masalah” Ujar Drs Tgk H.Hamdani A.Jalil. MA.***

    Laporan | Muliadi, A.Ma

  • Drama Politik Aceh, Ketegangan Memuncak, Perdamaian Mengejutkan!

    Dok Ist

    “Perselisihan yang dipicu oleh pengangkatan Alhudri sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh”

    PASE SATU | BANDA ACEH – Ketegangan yang sempat memanas antara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Tgk Zulfadhli dan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah akhirnya berujung pada sebuah rekonsiliasi yang dramatis, membuka babak baru bagi politik Aceh.

    Perselisihan yang dipicu oleh pengangkatan Alhudri sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh sempat mengguncang panggung politik daerah. Ketua DPRA menilai keputusan tersebut bermasalah secara hukum, memicu ketegangan yang dengan cepat menyebar luas ke publik.

    Namun, dalam sebuah pertemuan, Sekjen DPP Partai Aceh, Kamaruddin Abu Bakar alias Abu Razak, turun tangan sebagai penengah. Mediasi yang berlangsung di kediaman Abu Razak pada Senin, 24 Februari 2025, menjadi titik balik yang mengejutkan banyak pihak.

    Baca Juga:

    Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh berpengaruh Aceh, termasuk Sulaiman Abda, Juanda Jamal, Hendri, Tgk Anwar, dan Tgk M. Yunus. Dalam suasana yang sempat menegangkan, Abu Razak dengan tegas menyampaikan pesan penting tentang persatuan.

    “Perpecahan hanya akan melemahkan kita! Sekarang saatnya bersatu untuk Aceh yang lebih maju,” serunya dengan penuh semangat.


    Kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan ini tidak hanya menandai berakhirnya ketegangan politik, tetapi juga menunjukkan bahwa komunikasi yang baik dan niat tulus dapat menyelesaikan konflik yang tampak mustahil. Dengan hubungan yang kembali harmonis antara DPRA dan Pemerintah Aceh, masyarakat pun berharap masa depan yang lebih stabil dan sejahtera bagi daerah mereka.

    Drama politik ini menjadi bukti bahwa perbedaan bukanlah akhir, tetapi awal dari persatuan yang lebih kuat!***

  • Polres Aceh Utara dan Bhayangkari Launching Penguatan Program P2L

    Swasembada Pangan

    “Pemanfaatan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan kosong yang tidak produktif, sebagai penghasil pangan dalam memenuhi pangan dan gizi”

    PASE SATU | ACEH UTARA – Polres Aceh Utara beserta Bhayangkari Cabang Aceh Utara melaksanakan kegiatan Launching penguatan program pekarangan pangan lestari melalui pendekatan terintegrasi dan berkelanjutan di Pekarangan Mapolres Aceh Utara, Senin (24/2/2025).

    Kegiatan ini mengikuti, Launching penguatan Program Pekarangan Pangan Lestari serentak secara Nasional oleh Mabes Polri, yang disiarkan langsung melalui Video Conference (Vicon) dari Akpol Semarang Jawa Tengah.

    Di Polres Aceh Utara kegiatan tersebut dipimpin Kapolres AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K dihadiri pengurus Bhayangkari Cabang Aceh Utara para PJU Polres dan Perwakilan dari dinas Pertanian Aceh Utara.

    Baca Juga :

    Kasi Humas Polres Aceh Utara AKP Bambang menjelaskan,program pekarangan pangan lestari menawarkan solusi konkret menghadapi tantangan ketahanan pangan sebuah gerakan nasional yang mengubah paradigma masyarakat.

    Menurutnya,P2L membuktikan bahwa setiap warga bisa menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan, dengan cara menanam pangan yang tumbuh subur di halaman, sehingga tidak ada lagi istilah pekarangan kosong. Semuanya hijau, produktif, dan memberikan manfaat nyata.

    “Kegiatan ini dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan kosong yang tidak produktif, sebagai penghasil pangan dalam memenuhi pangan dan gizi,” ungkap AKP Bambang.

    Dengan memanfaatkan lahan kecil di sekitar Pekarangan Pangan Lestari (P2L) Bhayangkari Cabang Aceh Utara, Bhayangkari mencoba menanam sayur mayur diantaranya cabe, pakcoy, rampai dan terong yang harapannya dapat menjadi sumber pangan yang bermanfaat dan menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan sehat. (rilis) ***

  • Legenda Sidalupa: Kisah Rakyat Aceh Barat yang Sarat Pesan Moral

    Cerita Rakyat

    “Dikisahkan, hiduplah seorang pemuda bernama Sidalupa yang dikenal rajin, jujur, dan penuh bakti kepada ibunya”

    PASE SATU | ACEH BARAT – Di balik keindahan alam dan kekayaan budaya Aceh Barat, terdapat banyak cerita rakyat yang mengandung nilai moral dan pelajaran hidup. 

    Salah satunya adalah kisah legendaris Sidalupa, yang berasal dari daerah Meulaboh. Cerita ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi pengingat akan pentingnya kejujuran, kesetiaan, dan tanggung jawab. Seperti dikutip dari cerita rakyat, (warisan Budaya Aceh Barat), Senin, (24/02/25).

    Asal usul cerita Sidalupa, bermula di sebuah desa kecil di Aceh Barat. Dikisahkan, hiduplah seorang pemuda bernama Sidalupa yang dikenal rajin, jujur, dan penuh bakti kepada ibunya. Mereka hidup dalam kesederhanaan, namun Sidalupa tak pernah mengeluh dan selalu berusaha membantu ibunya memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Keinginan untuk mengubah nasib keluarganya membuat Sidalupa memutuskan untuk merantau. Sebelum berangkat, ibunya memberikan nasihat yang penuh makna: jaga kejujuran, hormati orang lain, dan jangan pernah melupakan asal-usulmu. Dengan janji yang terpatri di hati, Sidalupa pun meninggalkan desanya demi mencari kehidupan yang lebih baik.

    Perjalanan Sukses yang Berujung Petaka

    Setelah beberapa waktu di perantauan, usaha keras Sidalupa membuahkan hasil. Ia meraih kesuksesan dan hidup dalam kemewahan. Sayangnya, kesuksesan tersebut membuat Sidalupa lupa diri. Ia mulai melupakan pesan ibunya, menjadi sombong, dan bahkan berhenti mengirimkan kabar kepada sang ibu.

    Suatu hari, nasib buruk menimpa Sidalupa. Ia jatuh sakit parah, dan semua tabib yang didatangkan tak mampu menyembuhkannya. Seorang tabib bijak akhirnya mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk sembuh adalah dengan mendapatkan restu dan maaf dari ibunya.

    Penyesalan di Akhir Kehidupan Sidalupa

    Menyadari kesalahan besar yang telah ia lakukan, Sidalupa segera kembali ke desanya. Namun, takdir berkata lain. Saat ia tiba, ibunya telah meninggal dunia. Penyesalan mendalam menghantui Sidalupa seumur hidupnya karena telah mengabaikan ibunya dan melupakan nasihat yang dulu diberikan.

    Baca Juga :

    Kisah ini menjadi peringatan yang kuat tentang bagaimana kesombongan dan melupakan orang tua dapat membawa kehancuran. Hingga saat ini, cerita Sidalupa sering diceritakan oleh para orang tua di Aceh Barat sebagai pelajaran moral bagi generasi muda.

    Pesan Moral dari Cerita Rakyat Sidalupa

    Kisah Sidalupa mengandung berbagai pesan moral yang relevan hingga saat ini, di antaranya:

    1. Jangan pernah melupakan orang tua, terutama ibu yang selalu mendoakan anaknya dalam setiap langkah hidup.
    2. Kesombongan membawa kehancuran; tetaplah rendah hati meskipun telah meraih kesuksesan.
    3. Menepati janji dan menjaga nilai-nilai moral adalah kunci utama untuk menjalani kehidupan yang baik dan bermakna.

    Warisan Budaya Aceh Barat yang Tetap Hidup

    Cerita rakyat Sidalupa bukan hanya sekadar legenda, tetapi juga bagian dari warisan budaya Aceh Barat yang sarat akan nilai kehidupan. Kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya kesetiaan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang tua.

    Apakah Anda tertarik untuk mengetahui lebih banyak cerita rakyat dari Aceh dan wilayah Nusantara lainnya? Cerita-cerita ini bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai luhur yang patut kita lestarikan.***

    Laporan : Zulmalik

  • Sekda Aceh Utara Hadiri Rakornas Pengendalian Inflasi Secara Virtual

    Sekda Aceh Utara
    Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Utara, Dr. A. Murthala, M.Si, Mengikuti Rakornas secara Virtual (Foto: Romi Pasla) 

    “Upaya nasional untuk mengurangi dampak inflasi terhadap perekonomian masyarakat”

    PASE SATU | ACEH UTARA  – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Utara, Dr. A. Murthala, M.Si, secara aktif menghadiri dan berpartisipasi dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi Tahun 2025 secara virtual. 

    Didampingi oleh Plt. Asisten II Perekonomian dan Pembangunan, Samsul Rizal, ST., M.Si, serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kabupaten Aceh Utara, Sekda turut serta dalam diskusi dan penyusunan strategi pengendalian inflasi. 

    Acara ini digelar melalui platform Zoom Meeting bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan berlangsung di Ruang Rapat Bupati Aceh Utara pada Senin, 24 Februari 2025.

    Rakornas tahun ini mengangkat tema “Langkah Konkret Pengendalian Inflasi Tahun 2025” dengan tujuan menyelaraskan strategi pengendalian inflasi di tingkat daerah. Acara ini diikuti oleh berbagai pemerintah daerah di seluruh Indonesia yang memiliki komitmen dalam menangani permasalahan inflasi.

    Baca Juga:

    Sebagai perwakilan utama Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Sekda menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya nasional untuk mengurangi dampak inflasi terhadap perekonomian masyarakat.

    Dalam kesempatan tersebut, Dr. A. Murthala menyoroti pentingnya implementasi kebijakan yang dirumuskan dalam Rakornas agar segera diterapkan di tingkat daerah guna menjaga stabilitas ekonomi lokal.

    Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, serta peran aktif Sekda Aceh Utara, diharapkan pengendalian inflasi dapat berjalan lebih efektif serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh Utara, Sebut Sekda Aceh Utara. ***

  • Gelombang Pengungsi Rohingya di Aceh, Krisis Kemanusiaan atau Ancaman Baru?

    Pengungsi Rohingya
    Sejumlah imigran etnis Rohingya beristirahat usai terdampar di Blang Raya, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh, Selasa, 14 November 2023. Sebanyak 196 orang imigran etnis Rohingya yang terdiri dari 61 orang laki-laki, 69 orang perempuan dan 59 orang anak-anak menaiki perahu dan terdampar di pantai Desa Blang Raya. ANTARA FOTO/Joni Saputra

    “Salah satu yang utama adalah kondisi politik di Myanmar yang tidak stabil, menyebabkan etnis Rohingya mengalami diskriminasi dan kekerasan “

    PASE SATU | JAKARTA – Keberadaan warga Rohingya di Aceh terus menjadi perhatian utama. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Aceh, Novianto Sulaksono, mengungkapkan bahwa jumlah pengungsi Rohingya di provinsi tersebut telah mencapai sekitar 1.104 orang yang tersebar di empat lokasi penampungan.

    “Saat ini, terdapat empat kamp penampungan utama di Aceh. Di Kantor Imigrasi Lhokseumawe menampung 93 orang, di Aceh Timur sebanyak 376 orang, di Desa Kulee Pidie sebanyak 59 orang, dan di Desa Mina Raya Pidie mencapai 576 orang. Ini merupakan data terbaru yang kami miliki,” ungkap Novianto dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XIII DPR RI pada Senin (24/2/2025).

    Aceh menjadi tujuan utama pengungsi Rohingya karena beberapa faktor. Salah satu yang utama adalah kondisi politik di Myanmar yang tidak stabil, menyebabkan etnis Rohingya mengalami diskriminasi dan kekerasan. Selain itu, secara geografis, Aceh adalah wilayah terdekat yang dapat dijangkau oleh mereka.

    Baca Juga:

    “Aceh juga dipilih karena mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga mereka merasa lebih nyaman dan aman. Selain itu, kondisi kamp pengungsian di Cox’s Bazar, Bangladesh, yang semakin memburuk, mendorong mereka untuk mencari tempat perlindungan baru,” jelas Novianto.

    Meskipun banyak masyarakat Aceh yang menunjukkan solidaritas terhadap pengungsi Rohingya, tidak sedikit pula yang merasa khawatir dengan terus bertambahnya jumlah mereka. Dalam beberapa kesempatan, terjadi demonstrasi dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dan LSM, yang menyoroti dampak sosial dari keberadaan pengungsi.

    “Masyarakat mulai merasa resah karena beberapa pengungsi tidak menaati aturan syariat Islam yang berlaku di Aceh. Selain itu, muncul pula misinformasi yang memperburuk sentimen masyarakat terhadap keberadaan Rohingya,” tambah Novianto.

    Tantangan utama dalam menangani pengungsi Rohingya di Aceh adalah kurangnya kejelasan dalam alokasi anggaran serta koordinasi antarinstansi. Menurut Novianto, diperlukan kebijakan yang lebih tegas untuk menangani persoalan ini, mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2016.

    “Kami berharap ada kejelasan mengenai siapa yang bertanggung jawab dalam penanganan pengungsi serta bagaimana skema anggarannya. Ini penting agar pengelolaan pengungsi dapat dilakukan secara efektif,” katanya.


    Beberapa permasalahan yang dihadapi di kamp penampungan antara lain pelecehan di antara sesama pengungsi, kaburnya beberapa pengungsi ke Malaysia melalui jaringan perdagangan manusia (TPPO), serta penolakan dari warga sekitar terhadap rencana penambahan jumlah pengungsi.

    Untuk mengatasi permasalahan ini, berbagai opsi sedang dipertimbangkan, termasuk pemulangan sukarela ke negara asal, penempatan ke negara ketiga, atau mencari lokasi khusus, seperti sebuah pulau, untuk dijadikan tempat penampungan bagi para pengungsi Rohingya.

    “Kami berharap ada solusi yang tepat agar masyarakat Aceh tetap merasa nyaman, sementara pengungsi Rohingya juga mendapatkan perlindungan yang layak,” pungkas Novianto.


    Keberadaan pengungsi Rohingya di Aceh merupakan isu kemanusiaan yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat internasional. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan solusi terbaik dapat ditemukan demi kebaikan bersama.***