Harga Gabah Merosot, Petani Aceh Utara Kembali Dihadapkan pada Ancaman Panen Murah

Ditulis oleh

di

Harga Gabah Merosot, Petani Aceh Utara Kembali Dihadapkan pada Ancaman Panen Murah

ACEH UTARA | PASESATU.COM — Harapan petani untuk mendapatkan hasil layak dari sawah kembali diuji. Harga gabah di sejumlah wilayah Aceh Utara mulai merosot dari sebelumnya sekitar Rp8.200 per kilogram, kini berada di kisaran Rp7.800 hingga Rp7.600 per kilogram.

Penurunan tersebut terjadi menjelang musim panen yang diperkirakan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang. Bagi petani, situasi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan menyangkut biaya hidup, modal tanam berikutnya, hingga keberlangsungan ekonomi keluarga.

Nasir, salah seorang pembeli gabah di seputaran Kota Panton Labu, Aceh Utara, memperkirakan harga gabah masih berpotensi mengalami penurunan ketika panen mulai berlangsung.

“Bisa jadi untuk ke depan harga gabah pasti turun lagi, karena daerah kita beberapa minggu lagi akan ada panen,” tutur Nasir, Jumat (11/9/2026).

Kondisi tersebut patut menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya instansi yang membidangi pertanian dan pangan.

Sebab, persoalan harga gabah tidak semestinya baru dibicarakan ketika petani sudah memasuki masa panen. Pemerintah perlu memastikan sejak awal bagaimana hasil produksi petani dapat terserap dengan harga yang wajar, terutama ketika pasokan meningkat.

Petani telah mengeluarkan biaya dan tenaga selama berbulan-bulan. Mereka menanam, merawat, menghadapi risiko hama, cuaca, kerusakan lahan maupun persoalan produksi lainnya. Namun ketika tiba waktunya menjual hasil panen, mereka justru berhadapan dengan ketidakpastian harga.

Ironisnya, ketika harga beras di tingkat konsumen tetap menjadi perhatian, petani sebagai produsen utama justru dapat menghadapi tekanan harga saat gabah mereka dijual.

Di sinilah pemerintah dan Dinas Pertanian tidak cukup hanya hadir melalui kegiatan seremonial, bantuan atau program pertanian. Yang juga dibutuhkan petani adalah perlindungan terhadap hasil produksi mereka ketika panen tiba.

Jika harga terus turun saat panen raya, petani berpotensi mengalami tekanan ekonomi yang semakin berat. Penurunan beberapa ratus rupiah per kilogram dapat berarti kehilangan pendapatan yang cukup besar apabila hasil panen mencapai beberapa ton.

Karena itu, pemerintah daerah bersama Dinas Pertanian dan pihak terkait perlu mencermati perkembangan harga gabah sejak sekarang.

Langkah antisipasi terhadap potensi anjloknya harga harus dilakukan sebelum petani mulai memanen, bukan setelah keluhan bermunculan.

Petani tidak meminta harga yang tidak masuk akal. Mereka hanya berharap hasil kerja kerasnya dihargai secara layak.

Jangan sampai sawah menghijau menjanjikan panen, tetapi ketika gabah dipanen, yang dituai petani justru kerugian.

Musim panen seharusnya menjadi waktu petani menikmati hasil perjuangan. Bukan menjadi siklus lama: menanam dengan biaya tinggi, memanen dengan penuh harapan, lalu menjual dengan harga yang semakin rendah.*** 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *