ACEH UTARA | PASESATU.COM — Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I menyiapkan langkah penanganan tanggul Sungai Krueng Peutoe yang jebol di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara. Kerusakan tanggul yang terjadi di tengah hujan lebat tersebut berkaitan dengan banjir yang merendam empat gampong pada Rabu (21/10/2026).
Kepala BWS Sumatera I, Asyari, mengatakan pihaknya akan menurunkan tim untuk memeriksa lokasi kerusakan dan segera mengupayakan perbaikan sebagai bagian dari penanganan darurat.
“Untuk penanganan tanggap darurat di lokasi yang tanggulnya putus akibat banjir nanti kami turunkan tim mengecek kembali dan segera diperbaiki,” kata Asyari, seperti dikutip ANTARA News Aceh, Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan pantauan di lokasi, banjir menggenangi Gampong Meunasah Dayah LT, Krueng LT, Teungoh LT, dan Buloh LT. Kerusakan terparah dilaporkan berada di Gampong Meunasah Dayah LT, dengan panjang tanggul yang jebol sekitar 15 meter.
Luapan Sungai Krueng Peutoe dan kerusakan tebing sungai di sejumlah titik menyebabkan air masuk ke permukiman warga serta menggenangi badan jalan penghubung Lhoksukon–Cot Girek. Ketinggian air di dalam rumah dilaporkan mencapai 50 sentimeter hingga satu meter, sehingga sebagian warga terpaksa mengungsi.
Asyari menjelaskan, berdasarkan informasi awal yang diterima, tanggul yang jebol diduga berada di lokasi berbeda dari titik yang pernah diperbaiki setelah bencana hidrometeorologi sebelumnya.
Meski demikian, BWS Sumatera I masih perlu memastikan posisi kerusakan melalui pemeriksaan langsung di lapangan, termasuk menilai tingkat kerusakan tanggul.
Apabila kerusakan kembali terjadi pada bagian yang sebelumnya telah diperbaiki, tanggung jawab perbaikannya masih berada pada pihak penyedia pekerjaan. Namun, jika kerusakan ditemukan di titik baru, BWS Sumatera I akan mengupayakan penanganan.
“Tim memastikan ke lapangan, kalau lokasi yang sudah pernah diperbaiki dan jebol kembali, itu masih menjadi tanggung jawab penyedia memperbaikinya. Tapi kalau jebolnya di lokasi baru, tetap kita upayakan perbaikan,” tegas Asyari.
Pemeriksaan tersebut menjadi langkah penting untuk menentukan tindak lanjut penanganan tanggul yang terdampak banjir di Kecamatan Lhoksukon.
Selain menangani kerusakan tanggul, BWS Sumatera I juga menjalankan upaya darurat pada alur sungai di Aceh melalui pembukaan kembali alur sungai serta normalisasi bagian yang mengalami penyempitan, pendangkalan, dan hambatan aliran.
Upaya tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas tampung sungai dan memperlancar aliran air agar genangan serta limpasan banjir dapat dikurangi.
Asyari menyebut penanganan jangka panjang perlu dilakukan secara terpadu dari wilayah hulu hingga muara sungai. Menurut dia, penanganan permanen mulai dilaksanakan pada Oktober 2026 dan ditargetkan selesai secara keseluruhan pada Desember 2028.
“Penanganan permanen tersebut mulai dilaksanakan pada Oktober 2026 ini, dan ditargetkan dapat diselesaikan secara keseluruhan pada Desember 2028,” kata Asyari.
Sebelumnya, Kepala Dusun Blang Gampong Meunasah Dayah LT, Ali Basyah, mengatakan tanggul di wilayahnya telah jebol sejak tahun lalu dan belum diperbaiki hingga banjir kembali terjadi.
“Setiap kali hujan turun di wilayah hulu, desa kami kembali terendam. Tanggul sudah jebol sejak setahun lalu dan belum diperbaiki. Ketinggian air di rumah warga berkisar setengah meter hingga satu meter, bahkan ada yang sudah mengungsi,” kata Ali.
Ia menyebut warga bersama aparatur gampong telah berulang kali melaporkan kerusakan tersebut kepada pihak kecamatan dan kabupaten. Namun, menurut keterangannya, belum terlihat tindakan perbaikan di lokasi.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara dari Partai PAS Aceh, Marzuki, yang meninjau lokasi bersama aparatur gampong pada Rabu (21/10/2026), juga meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut.
“Setiap tahun, saat hujan turun, masyarakat di beberapa desa di sini selalu terdampak genangan. Kami sudah turun langsung ke lapangan dan melihat kondisinya cukup memprihatinkan,” ujar Marzuki.
Ia berharap kerusakan tanggul segera ditangani melalui perbaikan yang memadai dan berkelanjutan untuk mengurangi risiko banjir berulang di kawasan permukiman.***
Editor : Syahrul Usman

Tinggalkan Balasan