Dari Banjir Bandang 2025 ke Banjir 2026, Perjuangan Penyintas Buket Linteung Belum Usai

Ditulis oleh

di

Dok banjir pada 2025.

ACEH UTARA | PASESATU.COM – Banjir bandang yang melanda pada 26 November 2025 belum genap setahun berlalu ketika warga Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, kembali menghadapi bencana serupa pada 12 Oktober 2026. Di tengah banjir yang belum surut, perjuangan warga untuk memenuhi kebutuhan keluarga kembali diuji.

Salah satu kisah memilukan datang dari Lisa, penyintas banjir asal Dusun Teungoh, Desa Buket Linteung. Dalam kondisi sedang mengandung, ia harus menerobos genangan air setinggi pinggang orang dewasa demi mencapai Kantor Cabang Pembantu (KCP) Panton Labu untuk mengambil bantuan banjir.

Perjalanan tersebut bukan perkara mudah. Di tengah air yang masih menggenangi wilayahnya, setiap langkah menyimpan risiko. Namun, kebutuhan keluarga membuat Lisa tetap berusaha mencapai lokasi penyaluran bantuan.

Kisah Lisa menjadi gambaran perjuangan penyintas banjir yang bukan hanya harus menghadapi bencana berulang, tetapi juga kesulitan menjangkau bantuan ketika akses di sekitar tempat tinggal mereka masih terendam.

Saat ditemui awak media di KCP Panton Labu, Selasa (13/10/2026), Lisa menceritakan pengalamannya. Dalam kondisi sedang mengandung, ia berusaha menempuh perjalanan berbahaya karena kebutuhan keluarga tidak bisa menunggu hingga banjir benar-benar surut.

Di balik langkahnya menembus air, tersimpan harapan untuk membawa pulang bantuan yang dapat meringankan beban keluarganya setelah banjir kembali mengganggu aktivitas sehari-hari.

Banjir Berulang, Perjuangan Warga Kembali Terulang

Bagi masyarakat Desa Buket Linteung, banjir pada 12 Oktober 2026 menjadi ujian baru setelah banjir bandang pada 26 November 2025. Dalam rentang waktu yang belum genap setahun, warga kembali berhadapan dengan genangan yang menghambat mobilitas dan menyulitkan pemenuhan kebutuhan rumah tangga.

Bagi penyintas banjir, bencana bukan sekadar air yang menggenangi rumah dan jalan. Ada kebutuhan keluarga yang harus tetap dipenuhi, aktivitas ekonomi yang terganggu, serta kekhawatiran ketika hujan kembali turun dan permukaan air meningkat.

Dalam situasi seperti itu, bantuan menjadi salah satu penopang bagi keluarga untuk melewati masa sulit. Namun, pengalaman Lisa memperlihatkan bahwa tersedianya bantuan belum tentu membuat seluruh penyintas dapat menjangkaunya dengan mudah.

Ketika jalan masih digenangi air, perjalanan menuju tempat penyaluran bantuan dapat berubah menjadi tantangan berat, terlebih bagi warga yang memiliki keterbatasan fisik atau membutuhkan perlindungan khusus.

Bantuan Kedua, Harapan di Tengah Kesulitan

Di tengah keadaan yang belum sepenuhnya pulih, Lisa menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah atas bantuan yang diterimanya. Bantuan tersebut merupakan bantuan banjir untuk kedua kalinya.

Bagi Lisa dan keluarganya, bantuan itu bukan sekadar paket kebutuhan, melainkan harapan untuk tetap bertahan melewati hari-hari sulit setelah banjir mengganggu kehidupan mereka.

Rasa syukur tersebut hadir berdampingan dengan kenyataan bahwa perjalanan untuk memperoleh bantuan masih menyimpan risiko. Bantuan telah tersedia, tetapi akses untuk menjangkaunya menjadi persoalan tersendiri bagi warga yang tempat tinggal dan lingkungannya masih digenangi air.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan penyaluran bantuan tidak cukup diukur dari jumlah penerima. Kemudahan akses dan keselamatan penyintas juga perlu menjadi perhatian agar bantuan benar-benar dapat dijangkau oleh mereka yang membutuhkan.

Bagaimana dengan Lansia dan Warga yang Tidak Mampu Berjalan Jauh?

Perjuangan Lisa memunculkan pertanyaan penting tentang keselamatan penyintas dalam proses penyaluran bantuan. Jika seorang ibu hamil harus menerobos air setinggi pinggang demi memperoleh bantuan, bagaimana dengan warga lanjut usia, anak-anak, orang sakit, penyandang disabilitas, dan masyarakat yang tinggal di wilayah dengan akses lebih sulit?

Tidak semua warga memiliki kekuatan fisik untuk melewati genangan. Sebagian mungkin tidak memiliki kendaraan atau pendamping yang dapat membantu mereka mencapai lokasi penyaluran bantuan.

Karena itu, kelompok rentan membutuhkan perhatian khusus dalam penanganan bencana. Bantuan yang tersedia di suatu lokasi belum tentu dapat dijangkau dengan aman oleh seluruh warga, terutama ketika akses jalan dan permukiman masih terendam.

Jika kondisi lapangan memungkinkan, penyaluran langsung ke wilayah terdampak atau penyediaan titik layanan yang lebih dekat dapat dipertimbangkan untuk mengurangi risiko perjalanan, khususnya bagi ibu hamil, lansia, orang sakit, dan penyandang disabilitas.

Pelayanan Bantuan Dibuka hingga Pukul 21.00 WIB

Kepala KCP Panton Labu menyampaikan bahwa pelayanan penyaluran bantuan banjir berlangsung hingga Jumat, 16 Oktober 2026. Pelayanan dibuka sampai pukul 21.00 WIB untuk memberikan kesempatan lebih luas kepada penyintas mengambil bantuan.

Perpanjangan waktu pelayanan tersebut diharapkan membantu warga, terutama mereka yang datang dari wilayah jauh dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai lokasi.

Namun, bagi warga seperti Lisa, persoalan tidak hanya berkaitan dengan jam pelayanan. Selama jalan dan permukiman masih digenangi air, perjalanan menuju lokasi tetap menjadi tantangan.

Jam pelayanan yang lebih panjang memang memberikan kelonggaran waktu, tetapi tidak dengan sendirinya menghilangkan risiko perjalanan. Oleh karena itu, kemudahan akses dan keselamatan warga juga perlu diperhatikan dalam proses penyaluran bantuan.

Penyintas Membutuhkan Bantuan dan Perlindungan

Banjir bandang pada 26 November 2025 dan banjir yang kembali menerjang Buket Linteung pada 12 Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa masyarakat harus menghadapi kembali situasi darurat dalam rentang waktu yang relatif berdekatan.

Pengalaman tersebut menegaskan pentingnya penanganan bencana yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan selama masa darurat, tetapi juga memperhatikan pemulihan masyarakat dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan banjir berikutnya.

Penyintas membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Pada saat yang sama, mereka juga memerlukan akses yang aman, informasi yang jelas, serta mekanisme pelayanan yang mempertimbangkan kondisi masyarakat di lapangan.

Bagi keluarga yang berulang kali menghadapi banjir, pemulihan bukan sekadar menunggu air surut. Mereka harus kembali menata kehidupan, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan menghadapi ketidakpastian ketika bencana datang lagi.

Kisah Lisa memperlihatkan sisi kemanusiaan dari persoalan tersebut. Di tengah banjir yang kembali datang, seorang ibu hamil harus menembus genangan demi membawa pulang bantuan untuk keluarganya.

Di Buket Linteung, air mungkin akan surut, tetapi perjuangan para penyintas tidak serta-merta berakhir. Pengalaman menghadapi banjir berulang menjadi pengingat akan pentingnya penanganan yang berkelanjutan, termasuk memastikan kelompok rentan tidak harus menghadapi risiko tambahan ketika mencari pertolongan.

Sebab, bantuan semestinya menjadi tangan yang menguatkan, bukan membuat penyintas kembali mempertaruhkan keselamatan. Setelah menghadapi banjir berulang, masyarakat Buket Linteung membutuhkan bukan hanya bantuan untuk bertahan hari ini, tetapi juga perlindungan dan kemudahan akses agar dapat menghadapi hari esok dengan lebih aman.***

Editor : Syahrul Usman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *