ACEH UTARA | PASESATU.COM — Ketika sebagian besar rumah masih gelap dan jalanan belum ramai, aktivitas di sebuah dapur di Desa Dayah, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, justru mulai bergerak.
Jam menunjukkan sekitar pukul 23.00 WIB. Lampu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Seuramo Aneuk Nanggroe menyala. Sejumlah perempuan mulai menempati bagian kerja masing-masing.
Ada yang menyiapkan bahan makanan, mencuci wadah makan, hingga bersiap mengolah menu. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 02.00 WIB, aktivitas memasak dimulai.
Mereka bekerja ketika sebagian besar orang masih terlelap.
Di dapur itu, makanan untuk ribuan penerima manfaat disiapkan sebelum pagi tiba. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat waktu kerja mereka berbeda dari kebanyakan pekerja lainnya.
Namun, bagi sejumlah ibu rumah tangga yang bekerja di sana, pekerjaan tersebut bukan semata soal menyiapkan makanan. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, biaya sekolah anak yang harus dibayar, dan kehidupan rumah tangga yang mesti terus berjalan.
Empat Belas Tahun Bertahan
Miftahul Jannah, 41 tahun, datang dari Desa Tutong, Kecamatan Tanah Luas. Selama 14 tahun, ia menjalani kehidupan dengan tanggung jawab besar di pundaknya.
Ibu tiga anak itu sebelumnya bekerja sebagai buruh tani. Penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Kini ketiga anak Miftahul sedang menempuh pendidikan. Salah satunya berada di perguruan tinggi, sementara dua lainnya masing-masing duduk di kelas 3 SMA dan kelas 3 SMP.
Tanggung jawabnya tidak berhenti di tiga anak kandung. Miftahul juga mengasuh tiga anak yatim yang merupakan keponakannya. Salah seorang di antaranya bahkan ia sekolahkan di dayah.
Di SPPG, Miftahul bertugas mencuci ompreng. Ia bekerja pada shift pukul 12.00 hingga 18.00 WIB.
“Saya juga menafkahi tiga anak yatim, ada yang saya masukkan ke dayah dan butuh biaya. Sekarang shift kerja saya dari pukul 12.00 – 18.00 WIB. Hasil dari sini sangat membantu saya membiayai sekolah dan kebutuhan anak-anak serta tiga keponakan saya,” ujar Miftahul, Kamis (10/9).
Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi Miftahul, penghasilan yang diterimanya memiliki arti besar: membantu memastikan kebutuhan pendidikan dan kehidupan keluarganya tetap terpenuhi.
Memasak Ketika Orang Lain Tidur
Saidah, 40 tahun, juga merasakan perubahan setelah bekerja di dapur SPPG. Warga Desa Dayah itu sebelumnya berjualan jajanan di sekolah dasar.
Sesekali, ia juga bekerja sebagai buruh di sawah. Suaminya bekerja sebagai pesuruh di sekolah tempat Saidah berjualan.
Kini Saidah menjadi bagian dari tim pengolahan menu di dapur SPPG.
Rutinitasnya dimulai ketika malam belum benar-benar berakhir. Ia sudah harus berada di tempat kerja sekitar pukul 23.00 WIB. Memasak dimulai sekitar pukul 02.00 WIB dan berakhir setelah seluruh pekerjaan selesai.
“Kami standby jam 23.00 WIB dan mulai memasak pukul 02.00 WIB sampai selesai, tergantung tingkat kesulitan menu. Saya bekerja di sini untuk membantu ekonomi keluarga dan membiayai anak yang sekolah di dayah dan kelas 3 SD,” kata Saidah.
Bagi Saidah, pekerjaan tersebut menjadi salah satu cara untuk ikut menopang kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak.
Bekerja hingga Dini Hari
Rutinitas serupa dijalani Cut Mursyidah, 27 tahun, warga Desa Mee.
Sebagai ibu dari seorang anak yang masih duduk di kelas 1 SD, Mursyidah bekerja di bagian persiapan. Ia biasanya mulai setelah Magrib dan menyelesaikan pekerjaan hingga malam atau dini hari.
Pada hari tertentu, pekerjaannya dapat berlangsung sampai sekitar pukul 03.00 WIB, terutama ketika menu yang disiapkan membutuhkan buah potong dalam jumlah banyak.
“Saya bekerja untuk membantu suami sekaligus memenuhi kebutuhan harian dan jajan anak. Harapan saya, program yang dicanangkan Presiden Prabowo ini bisa terus berjalan konsisten karena sangat berdampak bagi kami,” tutur Mursyidah.
Sementara Cut Naura Ayunda, 33 tahun, sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Kondisi suaminya yang bekerja serabutan membuat pendapatan keluarga tidak selalu menentu.
Bekerja di SPPG memberinya kesempatan memperoleh penghasilan secara rutin. Uang yang diperoleh kemudian menjadi bagian dari pendapatan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dari Dapur ke Rumah
SPPG Yayasan Seuramo Aneuk Nanggroe tidak hanya menjadi tempat pengolahan makanan untuk program MBG. Dapur tersebut juga menjadi tempat sejumlah warga memperoleh pekerjaan.
Asisten Lapangan SPPG, Sofyan, menyebut sekitar 50 orang terlibat dalam operasional dapur. Mereka terdiri dari 47 relawan, kepala dapur, ahli gizi dan akuntan.
Sekitar 70 persen pekerja merupakan warga lokal. Di antara mereka terdapat ibu rumah tangga, perempuan muda, serta laki-laki yang menjadi pencari nafkah bagi keluarganya.
Setiap hari, dapur tersebut melayani 24 titik penerima manfaat yang tersebar di 11 desa. Sasarannya meliputi PAUD, TK, SD, SMP, SLB Bina Bangsa, serta kelompok balita, ibu hamil dan ibu menyusui.
Skala pelayanan itu membuat dapur harus bekerja sejak dini hari agar makanan dapat disiapkan dan disalurkan sesuai jadwal.
Di balik proses tersebut, ada orang-orang yang bekerja dengan alasan yang sangat personal.
Miftahul bekerja agar anak-anaknya tetap sekolah.
Saidah bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak.
Mursyidah bekerja untuk membantu suami dan memenuhi kebutuhan anak.
Naura bekerja di tengah kondisi ekonomi keluarga yang belum sepenuhnya pasti.
Bagi mereka, dapur SPPG bukan sekadar tempat bekerja. Dari sana, penghasilan dibawa pulang untuk menjadi belanja harian, biaya pendidikan, dan kebutuhan keluarga.
Ketika matahari mulai muncul dan makanan telah meninggalkan dapur menuju titik-titik penyaluran, pekerjaan mereka perlahan selesai.
Namun bagi para ibu itu, hari belum benar-benar berakhir. Mereka pulang membawa penghasilan yang akan kembali digunakan untuk kehidupan di rumah.
Di situlah kisah MBG tidak hanya berbicara tentang makanan di atas meja. Ada tangan-tangan yang menyiapkannya, dan ada keluarga yang menggantungkan sebagian harapan hidup dari pekerjaan di baliknya.***
Tinggalkan Balasan