Ditulis Oleh | ABDUL RAFAR
PASESATU.COM – Merah Putih kembali berkibar di berbagai penjuru negeri. Spanduk dipasang, panggung didirikan, perlombaan disiapkan, dan lagu-lagu perjuangan kembali menggema menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, di tengah semarak perayaan itu, ada pertanyaan yang layak direnungkan: sejauh mana kemerdekaan telah dirasakan oleh masyarakat yang sembilan bulan lalu terdampak banjir dan kehilangan rumah, lahan, harta benda, hingga rasa aman?
Sembilan bulan mungkin cukup lama bagi sebagian orang untuk melupakan sebuah bencana. Namun, bagi warga yang masih menghadapi dampaknya, waktu tersebut belum tentu mampu menghapus kesulitan.
Sebagian warga masih menempati hunian sementara. Ada yang bertahan di tempat tinggal seadanya, sementara sebagian lainnya masih menunggu rumah, bantuan, dukungan untuk memenuhi kebutuhan hidup, maupun kepastian mengenai pemulihan kehidupan mereka.
Mereka tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mewah. Yang dibutuhkan adalah kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak.
Rumah yang aman. Tempat tidur yang tidak bocor. Makanan yang cukup. Penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Serta lingkungan yang memungkinkan anak-anak kembali belajar dan tumbuh tanpa terus dibayangi pengalaman bencana.
Di sinilah makna kemerdekaan seharusnya kembali direnungkan.
Merayakan kemerdekaan tentu bukan sebuah kesalahan. Sebaliknya, kemerdekaan merupakan hasil perjuangan yang harus dihormati dan disyukuri. Upacara, perlombaan, pengibaran bendera, hingga berbagai kegiatan masyarakat merupakan bagian dari ekspresi rasa syukur sebagai bangsa.
Namun, perayaan kemerdekaan sebaiknya tidak hanya diukur dari kemeriahan panggung dan banyaknya kegiatan seremonial.
Kemerdekaan juga perlu diwujudkan melalui kehadiran negara dalam memastikan masyarakat, terutama mereka yang masih terdampak bencana, memperoleh hak dan kebutuhan dasarnya.
Jika sebagian warga masih menunggu rumah, bantuan, dukungan pemulihan ekonomi, atau kepastian mengenai masa depan, maka momentum HUT ke-81 RI dapat menjadi kesempatan untuk kembali melihat kondisi mereka.
Bukan berarti seluruh perayaan harus dihentikan. Akan tetapi, di tengah keterbatasan dan masih adanya masyarakat yang membutuhkan perhatian, semangat peringatan kemerdekaan dapat diarahkan pula pada kegiatan yang lebih menyentuh kebutuhan warga.
Anggaran dan energi yang tersedia, misalnya, dapat disertai dengan kegiatan sosial, gotong royong, pemulihan lingkungan, atau dukungan bagi keluarga terdampak bencana.
Sebuah peringatan kemerdekaan tidak harus selalu diukur dari besarnya panggung atau meriahnya pertunjukan. Kepedulian kepada masyarakat yang masih membutuhkan bantuan juga merupakan bentuk nyata mengisi kemerdekaan.
Sebab, bagi warga yang masih menunggu kepastian, perhatian sederhana dapat memiliki arti yang besar.
Mereka ingin tahu bahwa setelah pemberitaan mengenai bencana berakhir, kehidupan mereka tidak ikut dilupakan.
Mereka ingin memastikan bahwa rumah yang rusak, sumber penghasilan yang hilang, serta kebutuhan keluarga mereka tetap menjadi perhatian hingga proses pemulihan benar-benar berjalan.
Karena itu, HUT ke-81 RI semestinya menjadi momentum untuk menundukkan kepala sejenak dan melihat kondisi masyarakat yang masih berjuang bangkit dari dampak bencana.
Melihat anak-anak yang menjalani kehidupan di tengah keterbatasan.
Melihat orang tua yang masih memikirkan tempat tinggal dan kebutuhan keluarga.
Melihat warga yang berusaha membangun kembali kehidupan dari apa yang tersisa.
Kemerdekaan tidak hanya tentang terbebas dari penjajahan. Dalam kehidupan bernegara, semangat kemerdekaan juga dapat dimaknai sebagai upaya menghadirkan rasa aman, kesempatan hidup layak, kesejahteraan, serta kepastian bagi seluruh masyarakat.
Karena itu, jangan sampai semarak perayaan kemerdekaan hanya terlihat di atas panggung, sementara sebagian warga yang masih terdampak bencana belum merasakan pemulihan secara nyata.
Sembilan bulan telah berlalu. Bencana mungkin tidak lagi menjadi berita utama setiap hari, tetapi bagi masyarakat yang terdampak, proses untuk bangkit belum tentu selesai.
Penderitaan mereka jangan berhenti sebagai angka dalam laporan atau menjadi catatan dalam sejarah bencana.
Jika kemerdekaan memang untuk seluruh rakyat, maka mereka yang telah bangkit patut dirayakan, sementara mereka yang masih tertinggal perlu dirangkul.
Sebab, ukuran kemerdekaan bukan hanya seberapa meriah sebuah bangsa merayakannya, melainkan seberapa kuat negara memastikan tidak ada rakyat yang merasa ditinggalkan ketika menghadapi kesulitan.
Selamat HUT ke-81 Republik Indonesia. Mari rayakan kemerdekaan dengan syukur, tetapi jangan lupa bahwa masih ada saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.***
Tinggalkan Balasan