Saat Pujian Membahagiakan dan Celaan Menyakitkan, Ada yang Perlu Diperbaiki dalam Hati

Ditulis oleh

di

Saat Pujian Membahagiakan dan Celaan Menyakitkan, Ada yang Perlu Diperbaiki dalam Hati

Ditulis Oleh:

Tgk. Kaswati Azkia, S.Pd�

Pengasuh dan Pengajar Dayah Babul Huda Jambo Masi, Aceh Jaya 

PASESATU.COM – Mengapa kita begitu bahagia ketika dipuji, tetapi sulit menerima ketika dicela? Mengapa semangat beramal meningkat saat mendapat sanjungan, lalu menurun ketika menjadi bahan pembicaraan? Boleh jadi, masalahnya bukan terletak pada ucapan orang lain, melainkan pada cara pandang hati kita.

Guru saya, Waled, pernah menyampaikan sebuah nasihat yang sangat membekas:

“Senang ketika dipuji dan benci ketika dicela merupakan salah satu penyakit batin yang harus ditinggalkan.”

Nasihat ini mengajarkan bahwa ukuran kebahagiaan seorang mukmin bukanlah pujian manusia, melainkan ridha Allah. Selama hati masih bergantung pada penilaian manusia, selama itu pula kita akan mudah kecewa. Padahal, apa pun profesi dan amanah yang kita jalankan pasti memiliki konsekuensi. Tidak mungkin semua orang menyukai kita. Akan selalu ada yang memuji dan akan selalu ada yang mencela. Karena itu, jangan habiskan energi untuk mengejar penilaian manusia. Yang terpenting adalah memastikan setiap langkah kita tetap berada dalam koridor syariat Allah.

Allah SWT berfirman:

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”�(QS. Al-Bayyinah: 5).

Ada satu hal yang juga perlu kita pahami. Ketika seseorang mulai berbenah, memperbaiki diri, dan bersungguh-sungguh ingin menjadi hamba Allah dan pengikut Rasulullah ﷺ yang lebih baik, di situlah Allah akan menguji keimanan dan keistiqamahannya. Ujian itu bukan tanda Allah membenci hamba-Nya, melainkan cara Allah mendidik dan melihat sejauh mana kesungguhan kita dalam mempertahankan kebaikan.

Allah SWT berfirman:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?”�(QS. Al-‘Ankabut: 2).

Jika kita mampu bersabar dan tetap istiqamah, Allah akan meninggikan derajat kita, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, jika hidup kita hanya berjalan biasa-biasa saja tanpa perjuangan memperbaiki diri, jangan berharap memperoleh derajat yang luar biasa di sisi Allah. Kemuliaan lahir dari kesabaran menghadapi ujian dan keteguhan dalam ketaatan.

Rasulullah Saw bersabda: “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang paling mirip dengan mereka, kemudian yang semisalnya.”�(HR. At-Tirmidzi).

Cara pandang terhadap celaan juga perlu diubah. Jika kritik itu benar, jadikan sebagai bahan muhasabah untuk memperbaiki diri. Namun jika celaan itu tidak benar, jangan terburu-buru membalasnya. Boleh jadi, melalui kesabaran itulah Allah menghapus dosa-dosa kita dan menambah pahala. Bahkan dalam hadis tentang orang yang bangkrut (al-muflis), Rasulullah Saw menjelaskan bahwa orang yang menzalimi saudaranya akan menyerahkan pahala amalnya kepada orang yang dizalimi pada hari kiamat. (HR. Muslim).

Karena itu, bukan tugas kita membalas setiap keburukan dengan keburukan yang sama. Tugas kita adalah menjaga akhlak, memperbaiki diri, dan menyerahkan keadilan kepada Allah. Sebab Allah adalah sebaik-baik Pembela bagi hamba-hamba-Nya yang bersabar.

Di atas semua itu, ada satu bekal yang harus terus ditanamkan dalam jiwa, yaitu husnuzan kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah Maha Baik. Apa pun yang terjadi dalam hidup ini tidak pernah lepas dari izin-Nya. Jika ada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan kita, jangan terburu-buru berburuk sangka kepada Allah. Boleh jadi, itulah yang terbaik menurut-Nya, meskipun saat ini kita belum mampu memahaminya.

Allah SWT berfirman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”�(QS. Al-Baqarah: 216).

Hidup memang adalah proses belajar. Kita sedang belajar menjadi hamba yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah. Karena itu, jangan pernah lelah memperbaiki diri hanya karena penilaian manusia.

Mintalah doa kepada istri yang salehah, karena doa seorang istri untuk suaminya adalah doa yang sangat berharga. Demikian pula doa seorang ibu untuk anaknya, yang termasuk doa yang sangat diharapkan dikabulkan oleh Allah. Dukungan doa dari keluarga adalah kekuatan besar dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.

Pada akhirnya, ketenangan hidup bukan karena semua orang memuji kita, melainkan karena kita yakin bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir-Nya. Selama kita tetap istiqamah, berbaik sangka kepada-Nya, dan terus memperbaiki diri, insya Allah setiap kesulitan akan diberi jalan keluar, setiap ujian akan menjadi penghapus dosa, dan setiap kesabaran akan menjadi sebab Allah mengangkat derajat kita di dunia maupun di akhirat.

Sebab yang menentukan nilai kita bukanlah seberapa sering nama kita dipuji manusia, melainkan seberapa mulia kedudukan kita di sisi Allah SWT.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *