Di Ujung Napas yang Tersisa: Apa yang Masih Patut Disombongkan Jika Pusara Adalah Rumah Terakhir?

Ditulis oleh

di

Di Ujung Napas yang Tersisa: Apa yang Masih Patut Disombongkan Jika Pusara Adalah Rumah Terakhir?

PASESATU.COM – Pada akhirnya, kehidupan manusia hanyalah persinggahan yang singkat. Kita lahir dengan tangisan, tumbuh dengan berbagai impian, mengejar harta, jabatan, dan pengakuan, lalu pada suatu waktu yang telah ditetapkan, kita pergi meninggalkan semuanya dalam keheningan.

Sering kali manusia membanggakan kekayaan, padahal harta tidak mampu membeli tambahan satu detik umur. Kita merasa tinggi karena jabatan dan kedudukan, padahal suatu hari semua itu akan digantikan oleh orang lain. Gelar, pujian, dan penghormatan yang diterima di dunia tidak akan ikut menemani ketika tubuh telah terbujur kaku.

Setiap detik yang berlalu sesungguhnya sedang membawa kita semakin dekat kepada kematian.

Suatu hari nanti, nama yang hari ini sering dipanggil akan berubah menjadi kenangan. Nomor telepon kita tidak lagi dihubungi. Kursi yang biasa kita duduki akan ditempati orang lain. Rumah yang megah tetap berdiri tanpa kehadiran kita. Kendaraan yang dahulu dibanggakan berpindah tangan, dan harta yang dikumpulkan seumur hidup menjadi milik ahli waris.

Sementara itu, kita hanya dibungkus selembar kain kafan, dipikul oleh orang-orang yang mencintai kita, lalu diturunkan perlahan ke dalam tanah yang sunyi.

Setelah itu, langkah demi langkah menjauh. Tangisan perlahan mereda. Doa-doa mulai berkurang. Hari demi hari berlalu, dan kita tetap sendiri di dalam pusara.

Di sana, tidak ada lagi pengawal bagi seorang pejabat, tidak ada lagi penghormatan bagi orang terpandang, dan tidak ada lagi tepuk tangan bagi mereka yang pernah dipuji. Tanah memeluk seluruh manusia dengan cara yang sama. Tubuh yang dahulu kuat dan gagah perlahan kembali menjadi tanah.

Kesombongan pun berakhir bersama jasad yang tak lagi bernyawa.

Hari ini mungkin kita masih dapat tertawa, merasa usia masih panjang, menunda meminta maaf, atau bahkan menyakiti orang lain demi kepentingan dunia. Padahal kematian tidak pernah memberi tanda kapan ia akan datang. Ia hadir tepat pada waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, saat manusia mungkin sedang bekerja, bercanda, tersenyum, atau menyusun rencana yang belum sempat diwujudkan.

Lalu, apa lagi yang pantas disombongkan jika rumah terakhir manusia hanyalah sebidang tanah sempit tempat seluruh kemewahan dunia kehilangan maknanya?

Selagi napas masih diberikan, peluklah kedua orang tua sebelum yang tersisa hanya makam yang basah oleh air mata. Sayangilah pasangan dan anak-anak sebelum penyesalan datang terlambat. Maafkan mereka yang pernah melukai, karena boleh jadi esok salah satu dari kita telah lebih dahulu dipanggil pulang.

Jangan biarkan hidup habis hanya untuk mengejar dunia yang pada akhirnya akan meninggalkan kita.

Sebab ketika mata telah terpejam untuk selamanya, ketika mulut tak lagi mampu berucap, dan ketika tangan tak lagi dapat menggapai apa pun, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Yang tersisa hanyalah penyesalan yang tidak lagi berguna.

Suatu hari nanti, orang-orang mungkin hanya berkata, “Dia pernah hidup.” Perlahan nama kita semakin jarang disebut, foto-foto mulai berdebu, dan dunia terus berjalan tanpa menunggu kepergian siapa pun.

Di ujung napas yang tersisa, manusia akan memahami satu kenyataan yang tak dapat dibantah: tidak ada satu pun yang benar-benar dimiliki di dunia ini.

Yang akan menemani hanyalah amal yang pernah dikerjakan, doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus, dan jejak kebaikan yang ditinggalkan di hati sesama.

Semoga sebelum nama kita berubah menjadi tulisan di atas batu nisan, sebelum tubuh dibaringkan di tanah yang sunyi, Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki diri, menghapus kesombongan, dan kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih.

Karena ketika tanah telah menutup tubuh kita, yang tersisa bukan lagi pertanyaan tentang seberapa kaya, seberapa tinggi jabatan, atau seberapa terkenal nama kita.

Yang tersisa hanyalah satu harapan:

Semoga Allah SWT menerima kepulangan kita dengan rahmat dan ampunan-Nya.***

Penulis : Abdul Rafar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *