Geuchik di Garis Depan, Pemerintah di Balik Senyap: Meugang Lebaran Berlalu, Uang untuk Bayar Lembu Belum Cair

Ditulis oleh

di

ACEH UTARA | PASESATU.COM — Tradisi meugang Lebaran telah berlalu, daging telah dibagikan kepada masyarakat, namun uang meugang yang dijanjikan pemerintah hingga kini belum juga cair. 

Akibatnya, para geuchik di Aceh Utara kini berada dalam posisi sulit karena harus menanggung keluhan warga sekaligus menghadapi persoalan pembayaran lembu yang sudah lebih dulu diambil untuk kebutuhan meugang.

Kondisi ini memunculkan keresahan di sejumlah gampong. Pasalnya, meugang bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi bagian penting dari budaya masyarakat Aceh yang selalu dijaga menjelang hari besar keagamaan. 

Karena itu, banyak desa tetap berupaya menjalankan tradisi tersebut meskipun harus mendahulukan pembelian lembu dengan harapan dana dari pemerintah akan segera dicairkan.

Namun harapan itu hingga kini belum juga menjadi kenyataan. Lebaran telah usai, tetapi dana yang dijanjikan belum turun, sehingga beban pembayaran kini ikut dirasakan di tingkat gampong.

“Kami di desa ini yang paling dulu ditanya masyarakat. Bahkan ada lembu yang sudah diambil untuk meugang, tapi sampai sekarang uangnya belum cair juga. Kami jadi serba salah,” ujar salah seorang geuchik di Aceh Utara, Kamis (2/4/2026).

Menurut para geuchik, persoalan ini bukan lagi hanya soal keterlambatan administrasi, tetapi telah menjadi beban nyata yang harus mereka hadapi di lapangan. Sebab, selain harus menjawab pertanyaan masyarakat, mereka juga harus memikirkan kewajiban pembayaran kepada pihak penyedia lembu yang telah lebih dulu memenuhi kebutuhan meugang di desa.

“Yang susah sekarang, lembu sudah dipotong, daging sudah dibagi, tapi uang untuk membayar belum ada. Ini yang membuat kami sangat tertekan,” kata geuchik lainnya.

Mereka menilai, jika dana meugang memang sudah dijanjikan, maka seharusnya pencairan dilakukan sebelum Lebaran, bukan setelah semuanya berlalu. Sebab, kebutuhan terbesar masyarakat justru berada pada momentum menjelang hari raya, ketika harga kebutuhan pokok meningkat dan beban rumah tangga bertambah.

Keterlambatan ini juga dinilai membuat posisi geuchik semakin sulit. Di satu sisi, mereka harus menjaga kepercayaan masyarakat, namun di sisi lain mereka belum mendapatkan kepastian dari pihak pemerintah terkait kapan dana tersebut benar-benar akan dicairkan.

Para geuchik berharap pemerintah kabupaten dan instansi terkait segera memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab keterlambatan tersebut. Mereka menegaskan, keterbukaan informasi sangat penting agar tidak menimbulkan spekulasi, kekecewaan, dan tekanan yang lebih besar di tengah masyarakat.***

Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *