![]() |
| Foto Ilustrasi |
Ditulis Oleh: Abdul Rafar
Editor : Syahrul Usman
PASESATU.COM – Setiap bencana selalu menyisakan dua pekerjaan besar. Yang pertama adalah memperbaiki bangunan yang rusak. Yang kedua, yang jauh lebih sulit, adalah memulihkan kepercayaan orang-orang yang kehilangan tempat berpijak. Rumah dapat dibangun kembali dengan semen, baja, dan kayu. Namun, kepercayaan hanya bisa dibangun melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Di hampir setiap lokasi bencana, pola yang terlihat nyaris serupa. Rombongan pejabat datang meninjau lokasi. Mereka menyapa warga, mendengar keluhan, menyerahkan bantuan simbolis, lalu menyampaikan komitmen bahwa pemerintah akan hadir hingga proses pemulihan selesai. Kehadiran itu tentu penting. Dalam situasi kehilangan, perhatian negara menjadi penanda bahwa masyarakat tidak sedang berjuang sendirian.
Namun, kehadiran tidak boleh berhenti pada seremoni. Sebab, bagi korban bencana, yang paling menentukan bukanlah siapa yang datang, melainkan apa yang benar-benar berubah setelah semua kendaraan dinas meninggalkan lokasi.
Di titik inilah harapan mulai diuji.
Masyarakat yang kehilangan rumah tidak hidup dalam hitungan konferensi pers. Mereka hidup dalam hitungan hari. Berapa malam lagi harus tidur di tenda atau rumah kerabat. Berapa lama anak-anak harus belajar dalam kondisi serba terbatas. Berapa bulan lagi mereka harus memulai kehidupan tanpa kepastian mengenai tempat tinggal yang layak.
Sementara itu, yang paling sering mereka dengar adalah kalimat-kalimat yang terus berulang: “masih dalam proses”, “sedang diverifikasi”, “anggaran sedang disiapkan”, “tinggal menunggu”, atau “segera direalisasikan”. Semua itu mungkin benar. Proses administrasi memang membutuhkan waktu. Regulasi harus dipatuhi. Pengadaan barang dan jasa memiliki mekanisme yang tidak sederhana.
Namun, dari sudut pandang warga yang kehilangan hampir segalanya, waktu memiliki arti yang berbeda. Satu minggu penundaan bukan sekadar tujuh hari. Itu berarti tujuh malam tambahan tanpa rumah sendiri. Tujuh hari lagi anak-anak hidup dalam keterbatasan. Tujuh hari lagi keluarga harus bertahan dengan ketidakpastian.
Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya penjelasan bahwa proses sedang berjalan. Mereka membutuhkan kepastian bahwa proses tersebut benar-benar bergerak menuju penyelesaian.
Kepercayaan publik tidak lahir dari pidato yang fasih. Ia juga tidak dibangun oleh unggahan media sosial yang menampilkan kunjungan kerja atau rapat koordinasi. Kepercayaan tumbuh ketika masyarakat melihat hasil yang nyata. Ketika rumah yang dijanjikan benar-benar berdiri. Ketika bantuan tiba tepat sasaran. Ketika jalan yang rusak kembali dapat dilalui. Ketika anak-anak bisa kembali belajar dengan tenang.
Sebaliknya, kepercayaan mulai terkikis ketika janji lebih sering terdengar daripada hasil yang terlihat.
Di era keterbukaan informasi, masyarakat tidak lagi hanya mendengar apa yang dikatakan pemerintah. Mereka juga mengamati apa yang dikerjakan. Mereka membandingkan pernyataan hari ini dengan kondisi di lapangan beberapa bulan kemudian. Mereka menyimpan ingatan tentang setiap komitmen yang pernah diucapkan.
Itulah sebabnya setiap pernyataan pejabat publik sesungguhnya adalah kontrak moral. Bukan kontrak dalam pengertian hukum, melainkan ikatan etis antara negara dan rakyat. Semakin besar jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan setiap ucapan memiliki dasar yang realistis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak ada masyarakat yang menuntut pemerintah bekerja tanpa hambatan. Warga memahami bahwa birokrasi memiliki prosedur, anggaran memiliki batas, dan pembangunan membutuhkan tahapan. Yang mereka harapkan adalah kejujuran, keterbukaan, dan konsistensi. Jika ada kendala, jelaskan apa kendalanya. Jika membutuhkan waktu lebih lama, sampaikan alasannya secara terbuka. Kejujuran sering kali jauh lebih dihargai daripada janji yang terdengar meyakinkan tetapi sulit diwujudkan.
Harapan adalah modal sosial yang sangat berharga setelah bencana. Ia membuat orang bertahan ketika kehilangan pekerjaan. Ia membuat keluarga tetap optimistis meski rumah mereka hanyut diterjang banjir. Ia memberi tenaga bagi masyarakat untuk memulai kehidupan dari nol. Tetapi harapan juga memiliki batas. Jika terlalu sering dipelihara melalui janji yang tak kunjung menjadi kenyataan, ia perlahan berubah menjadi kekecewaan.
Karena itu, jangan membangun istana pasir di tepi pantai.
Istana pasir memang tampak indah. Bentuknya rapi. Dari kejauhan terlihat kokoh. Namun, siapa pun tahu bangunan itu tidak memiliki fondasi. Satu gelombang saja cukup untuk merobohkannya.
Begitu pula harapan yang dibangun di atas janji tanpa kepastian. Mungkin pada awalnya masyarakat percaya. Mereka bersedia menunggu. Mereka memahami bahwa pemerintah membutuhkan waktu untuk bekerja. Akan tetapi, ketika waktu terus berjalan sementara perubahan tak kunjung terlihat, ombak kenyataan akan menghapus semua optimisme yang pernah dibangun.
Negara tidak diukur dari seberapa sering para pejabat datang ke lokasi bencana. Negara diukur dari kemampuannya memastikan setiap warga yang terdampak memperoleh haknya secara adil dan tepat waktu. Sebab, bagi penyintas bencana, bantuan yang benar-benar diterima selalu lebih berarti daripada janji yang terus diulang.
Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan kata-kata yang semakin indah. Mereka membutuhkan bukti bahwa setiap komitmen memiliki arah, setiap kebijakan memiliki hasil, dan setiap kunjungan meninggalkan perubahan yang dapat dirasakan. Sebab ketika kamera telah dimatikan, panggung telah dibongkar, dan pemberitaan berganti ke isu lain, kehidupan para korban tetap berjalan. Mereka masih menunggu. Dan penantian, jika dibiarkan terlalu lama, dapat mengikis sesuatu yang paling berharga dalam hubungan antara rakyat dan negara: kepercayaan.***

Tinggalkan Balasan