ACEH UTARA | PASESATU.COM — Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil jeruk nipis terbesar di Sumatera, kini mengalami penurunan produksi secara drastis pascabanjir.
Geuchik Buket Linteung, Mansur, mengatakan bahwa sebelum bencana, luas kebun jeruk nipis di wilayahnya mencapai sekitar 400 hektare. Namun setelah banjir melanda, luas lahan produktif kini tersisa sekitar 100 hektare saja.
“Banyak tanaman yang mati akibat terendam banjir. Sekarang tinggal sebagian kecil yang masih bisa dipanen,” ujar Mansur, Selasa (14/4/2026).
Berkurangnya produksi berdampak langsung pada pasokan di pasar. Harga jeruk nipis yang sebelumnya berkisar Rp8.000 per kilogram, kini melonjak tajam hingga mencapai Rp20.000 per kilogram.
Seorang pedagang di Pasar Panton Labu, Rusli, mengungkapkan bahwa kelangkaan pasokan dari Buket Linteung memaksa pedagang mencari sumber dari luar daerah.
“Sekarang jeruk nipis yang kami jual didatangkan dari Medan, Sumatera Utara, karena pasokan lokal sangat terbatas,” katanya.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada petani yang kehilangan hasil panen, tetapi juga pada pedagang dan konsumen yang harus menanggung kenaikan harga. Warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah untuk pemulihan sektor pertanian, khususnya komoditas jeruk nipis yang menjadi andalan ekonomi masyarakat setempat.***
Penulis : Abdul Rafar
Tinggalkan Balasan