ACEH UTARA | PASESATU.COM – Ratusan warga menghadiri kegiatan doa bersama dan santunan anak yatim piatu dalam rangka memperingati haul Sultan Malik Azh-Zhahir di kompleks makam Sultan Malik Ash-Shalih, Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut diikuti unsur Komite Peralihan Aceh (KPA), mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tokoh masyarakat, akademisi, serta anak-anak yatim piatu dari sejumlah desa di sekitar Kecamatan Samudera.
Selain doa bersama, panitia juga menyalurkan santunan kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya meneladani nilai-nilai keislaman yang diwariskan Sultan Malik Azh-Zhahir, tokoh yang dikenal sebagai pendiri Kesultanan Samudera Pasai.
Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Rasyidin selaku unsur KPA Daerah III, Umar Membe yang merupakan mantan Panglima Sagoe Cut Meutia, para eks kombatan GAM wilayah Pasee, masyarakat Aceh Utara, serta warga Kecamatan Samudera.
Dalam sambutannya, Peneliti Sejarah Islam dari LSM CISAH (Center for Information of Sumatra-Pasai Heritage), Sukarna Putra, menekankan pentingnya menjaga dan mengenalkan kembali sejarah Kesultanan Samudera Pasai kepada generasi muda.
Menurutnya, Sultan Malik Azh-Zhahir merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan Islam di Asia Tenggara. Ia menyebut sosok Sultan Malik Azh-Zhahir memiliki peran besar dalam penyebaran ajaran Islam serta pembangunan peradaban Islam di wilayah Samudera Pasai.
“Sultan Malik Azh-Zhahir merupakan figur yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam di Nusantara. Jejak perjuangan dan peninggalan sejarahnya masih dapat dilihat hingga saat ini, termasuk melalui kompleks makam yang menjadi salah satu situs bersejarah di Aceh Utara,” kata Sukarna.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga situs-situs sejarah peninggalan Kesultanan Samudera Pasai sebagai bagian dari warisan budaya dan identitas masyarakat Aceh.
Selain itu, Sukarna menjelaskan bahwa makam Sultan Malik Azh-Zhahir hingga kini masih menjadi tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, sejumlah komunitas pecinta sejarah dan peziarah secara rutin mengunjungi situs tersebut untuk mengenang peran Sultan Malik Azh-Zhahir dalam perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara.
Kegiatan haul berlangsung dalam suasana religius dan penuh kekeluargaan. Para peserta mengikuti rangkaian doa bersama yang dipanjatkan untuk Sultan Malik Azh-Zhahir serta para tokoh penyebar Islam di Nusantara.
Panitia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat silaturahmi masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian sejarah dan budaya Islam di Aceh, khususnya warisan Kesultanan Samudera Pasai yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa.***
Tinggalkan Balasan