Ayah Wa Luncurkan AMDK “IE LOEN”, PDAM Tirta Pase Bidik Peningkatan PAD Aceh Utara

Ditulis oleh

di

Ayah Wa Luncurkan AMDK"IE LOEN", PDAM Tirta Pase Bidik Peningkatan PAD Aceh Utara

ACEH UTARA | PASESATU.COM – Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang akrab disapa Ayah Wa, meluncurkan produk air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek Ie Loen di pabrik PDAM Tirta Pase, Gampong Meunasah Reudeup, Kecamatan Lhoksukon, Selasa (20/10/2026).

Peluncuran produk tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mengembangkan usaha daerah, memperluas pemasaran produk lokal, dan meningkatkan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Produk Ie Loen disiapkan dalam tiga pilihan kemasan, yakni botol berukuran 300 mililiter, botol 600 mililiter, dan galon berkapasitas 19 liter. Fasilitas produksinya dirancang memiliki kapasitas hingga 15.000 galon per hari.

Dalam sambutannya, Ayah Wa mengajak jajaran pemerintah daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), sektor perbankan, serta masyarakat untuk mendukung pemasaran produk tersebut. Ia juga mendorong instansi pemerintah di lingkungan Kabupaten Aceh Utara menggunakan produk Ie Loen sebagai bentuk dukungan terhadap usaha daerah.

“Dengan bismillahirrahmanirrahim, produk AMDK Ie Loen pada hari ini, Selasa, 20 Oktober 2026, secara resmi saya luncurkan. Mudah-mudahan produk ini dapat meningkatkan pendapatan daerah. Mengenai harganya, di lapangan harus tetap disesuaikan dengan harga standar,” ujar Ayah Wa.

Soroti Investasi dan Kesejahteraan Karyawan

Dalam kesempatan itu, Ayah Wa turut menyoroti dukungan anggaran pemerintah daerah terhadap pengembangan usaha PDAM Tirta Pase. Ia menyebutkan, total alokasi dana yang telah diberikan kepada perusahaan tersebut mencapai hampir Rp500 miliar.

Menurutnya, dukungan investasi tersebut perlu diimbangi dengan kinerja perusahaan yang optimal, pengelolaan profesional, serta pengawasan yang ketat untuk mencegah kebocoran anggaran.

Ia juga mengingatkan jajaran direksi agar memperhatikan kesejahteraan karyawan, termasuk memastikan pemenuhan hak dan pembayaran gaji tepat waktu.

Ayah Wa menegaskan pentingnya kebersamaan seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong pembangunan daerah.

“Pada kesempatan ini, saya mengajak seluruh jajaran pemerintah, unsur Forkopimda, sektor perbankan, dan seluruh elemen masyarakat Aceh Utara untuk senantiasa kompak, bersatu padu, dan bersemangat dalam membangkitkan berbagai sektor pembangunan demi tercapainya cita-cita mulia daerah,” katanya.

PDAM Tirta Pase Layani 53.000 Sambungan Rumah

Direktur PDAM Tirta Pase, Imran, S.T., M.S.M., menjelaskan bahwa perusahaan saat ini melayani sekitar 53.000 sambungan rumah (SR), dengan cakupan layanan sekitar 25 persen dari wilayah pelayanan yang menjadi tanggung jawab perusahaan.

Ia memaparkan, pengembangan layanan air minum di Aceh Utara telah melalui sejumlah tahapan, mulai dari pengelolaan oleh Badan Pengelola Air Minum (BPAM) hingga pembangunan instalasi pengolahan air berkapasitas besar.

Pada masa awal operasional, BPAM memiliki kapasitas produksi 55 liter per detik dengan 2.084 sambungan rumah. Sumber airnya berasal dari sumur dalam di Gampong Paya Leupah, Kecamatan Simpang Keuramat.

Pengembangan infrastruktur kemudian berlanjut melalui sejumlah skema kerja sama dan pembiayaan. Pada 1989, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menjalin nota kesepahaman dengan Den Outer Management Service (DOM Service) dari Belanda dengan nilai investasi sekitar Rp307 miliar. Namun, setelah empat tahun tidak terealisasi, kontrak tersebut dihentikan pada 28 Februari 1996.

Kerja sama selanjutnya dilakukan dengan PT Sarana Asa Putra Utama pada 1996. Namun, kerja sama tersebut berakhir pada 2000 akibat dampak krisis moneter.

Pembangunan kembali dilanjutkan pada 2002 melalui pinjaman Asian Development Bank (ADB) dalam program PAMSUSD-P. Program tersebut menghasilkan pembangunan instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) Krueng Pase berkapasitas 100 liter per detik yang diresmikan pada 2004.

Pada 11 Maret 2006, instalasi pengolahan air Lhoksukon berkapasitas 150 liter per detik juga diresmikan. Menurut Imran, instalasi tersebut masih beroperasi hingga saat ini.

Perkuat Tata Kelola dan Pemanfaatan Teknologi

Imran mengatakan, PDAM Tirta Pase memprioritaskan pembenahan tata kelola perusahaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan revitalisasi sistem penyediaan air minum.

Pada 2024, perusahaan bekerja sama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh untuk menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG). Evaluasi terhadap penerapannya dilakukan setiap enam bulan.

Pada 2025, PDAM Tirta Pase juga membangun ruang kendali berbasis Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA). Sistem yang dikembangkan oleh tenaga teknologi informasi lokal tersebut digunakan untuk memantau operasional 11 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) secara waktu nyata.

Selain pembenahan sistem operasional, perusahaan menata lahan seluas 1,3 hektare yang sebelumnya digunakan sebagai tempat penampungan lumpur menjadi ruang terbuka hijau dan kawasan wisata air.

Kawasan tersebut juga direncanakan menjadi pusat edukasi pelestarian sumber daya air bagi pelajar serta lokasi pembangunan kantor pusat PDAM Tirta Pase.

Ie Loen Dikembangkan untuk Perluas Akses Air Minum

Khusus pengembangan AMDK Ie Loen, Imran menjelaskan bahwa fasilitas produksi dirancang untuk menghasilkan hingga 15.000 galon per hari. Produk tersebut tersedia dalam kemasan botol 300 mililiter, botol 600 mililiter, dan galon 19 liter.

Ia juga menyampaikan bahwa inovasi air minum galon Ie Loen sebelumnya ditetapkan sebagai praktik baik (best practice) dalam laporan Voluntary National Review (VNR) terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 2025.

Menurut Imran, program tersebut melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam penyaluran air minum berkualitas dengan harga terjangkau.

Skema tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap air minum sekaligus membuka peluang pemberdayaan ekonomi, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Banjir Jadi Tantangan Pemulihan Layanan

Di sisi lain, Imran mengakui bahwa kinerja keuangan perusahaan sempat terdampak bencana banjir yang merusak sejumlah infrastruktur pengolahan air, jaringan distribusi utama, jaringan distribusi bagi, serta sambungan rumah pelanggan.

Kerusakan tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan dalam memulihkan pelayanan sekaligus menjaga keberlanjutan operasional.

Manajemen PDAM Tirta Pase menyatakan akan terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat tata kelola perusahaan, dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Peluncuran AMDK Ie Loen diharapkan dapat membuka peluang pengembangan usaha daerah dan memberikan kontribusi terhadap PAD Aceh Utara. Keberhasilan upaya tersebut akan bergantung pada pengelolaan usaha, pemasaran produk, efisiensi operasional, serta kemampuan perusahaan menjaga kualitas dan keberlanjutan layanan air minum kepada masyarakat.***

Editor : Syahrul Usman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *