ACEH UTARA | PASESATU.COM — Perdebatan mengenai dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Aceh Utara masih menjadi perhatian publik. Sejumlah pihak terus menyampaikan pandangan terkait keputusan tersebut, termasuk Majelis Pendidikan Daerah (MPD) yang sebelumnya mendorong pemerintah daerah untuk mengevaluasi kembali penetapan hari jadi.
Di tengah perdebatan tersebut, akademisi Prof. Dr. Husni Mubarrak A. Latief, Lc., MA., memilih tidak memberikan tanggapan secara mendalam ketika dimintai pendapat mengenai polemik itu.
Ia justru mengarahkan wartawan untuk memperoleh penjelasan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh Utara.
Sikap serupa ditunjukkan Kepala Bappeda Aceh Utara, Drs. Adamy, M.Pd. Ia mengatakan pihaknya belum ingin masuk ke pembahasan mengenai kontroversi penetapan hari jadi tersebut.
“Oh, kita tidak masuk ke situ. Karena itu masuk kepada ranah, eh, bukan konteksnya pada hari ini,” kata Adamy kepada wartawan seusai menghadiri Seminar dan Diseminasi Kajian Kesultanan Samudera Pasai di Aula Setdakab Aceh Utara, Rabu (9/9/2026).
Meski tidak memberikan penjelasan terkait substansi polemik, Adamy menyebut Pemkab Aceh Utara akan menindaklanjuti berbagai masukan yang berkembang.
Menurutnya, pemerintah daerah terlebih dahulu akan menyampaikan perkembangan persoalan tersebut kepada pimpinan. Setelah itu, akan dilakukan koordinasi bersama pihak-pihak terkait untuk membahas rekomendasi yang telah disampaikan.
Pertemuan lanjutan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk menyamakan pandangan antarpemangku kepentingan sebelum pemerintah menentukan langkah selanjutnya.
Sementara itu, seminar yang berlangsung di Aula Setdakab Aceh Utara merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan sejarah Samudera Pasai. Kegiatan tersebut mengusung tema “Penelitian, Konservasi, Pelestarian dan Internalisasi Makam Malikussaleh”.
Dua akademisi, Prof. Dr. Husni Mubarrak A. Latief, Lc., MA., dan Dr. Saifuddin Dhuhri, Lc., MA., hadir sebagai narasumber. Keduanya membahas berbagai perspektif akademik mengenai sejarah Kesultanan Samudera Pasai sekaligus pentingnya menjaga dan melestarikan makam Sultan Malikussaleh.
Seminar turut dihadiri Sekretaris Daerah Aceh Utara, Asisten II, Asisten III, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Cabang Dinas Pendidikan, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), serta unsur mahasiswa, guru, dan pelajar.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu forum yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pendidik, dan generasi muda dalam membahas sejarah serta peninggalan Kesultanan Samudera Pasai.***
Penulis : Syahrul Usman
Tinggalkan Balasan