Ayah Wa Minta Seluruh Dinas Bersinergi Benahi Empat Kawasan Terpencil di Aceh Utara

Ditulis oleh

di

Ayah Wa Minta Seluruh Dinas Bersinergi Benahi Empat Kawasan Terpencil di Aceh Utara

ACEH UTARA | PASESATU.COM — Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE., MM., yang akrab disapa Ayah Wa, meminta seluruh dinas dan instansi terkait untuk bersinergi dalam membenahi desa-desa yang masuk kategori Komunitas Adat Terpencil (KAT).

Permintaan tersebut disampaikan melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Utara, Dayan Albar, SSTP., MAP., saat membuka kegiatan Semiloka Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Oproom Kantor Bupati Aceh Utara, Jumat sore (30/10/2026).

Dalam arahannya, Dayan Albar menegaskan bahwa penanganan kawasan terpencil membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, tidak hanya pemerintah daerah, tetapi juga sektor swasta, perguruan tinggi, perbankan, LSM hingga tokoh masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan untuk mengidentifikasi sekaligus mengintervensi berbagai kebutuhan dasar masyarakat di kawasan KAT. Bahkan, upaya tersebut diharapkan dapat menjadi proyek percontohan dalam penanganan persoalan masyarakat di wilayah terpencil.

Oleh karena itu, seluruh Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) yang hadir, termasuk Dinas Pendidikan, Dinas PUPR, Dinas Kesehatan, Bappeda, perbankan, BUMN dan unsur perguruan tinggi, diminta segera merumuskan langkah-langkah strategis dan program konkret sesuai kebutuhan masyarakat.

“Semua pihak diharapkan dapat berkontribusi dan mengambil peran masing-masing agar penanganan kawasan KAT ini bisa berjalan secara terpadu,” demikian arahan yang disampaikan Sekda Dayan Albar.

Sebelumnya, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Aceh Utara, Fakhrurradhi, SH., MH., dalam sambutannya menjelaskan bahwa pemetaan dan pembahasan kawasan KAT kali ini mencakup empat titik lokasi.

Keempat lokasi tersebut yakni Desa Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan; Desa Gunci dan Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang; serta Desa Bukit Makarti, Kecamatan Tanah Luas.

Menurut Fakhrurradhi, keempat lokasi tersebut dipilih sebagai representasi keterwakilan wilayah barat, tengah dan timur Kabupaten Aceh Utara.

Kegiatan semiloka dipandu Musfendi, SE., serta difasilitasi oleh LSM Peduli Duafa. Sejumlah narasumber turut dihadirkan, di antaranya perwakilan Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Kementerian Sosial RI, perwakilan masyarakat dan tokoh adat dari empat lokasi KAT, serta Ahli KAT, Dr. Sabirin, S.Sos.I., M.Si.

Sementara itu, Musfendi kepada media ini seusai kegiatan menyampaikan bahwa semiloka tersebut telah berhasil merumuskan sejumlah kebijakan strategis untuk penanganan kawasan KAT.

Rumusan kebijakan tersebut mencakup program jangka pendek, menengah hingga jangka panjang yang diharapkan menjadi landasan bagi seluruh pihak dalam mempercepat pembenahan kawasan terpencil di Aceh Utara.***

Editor : Syahrul Usman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *