Di balik rasa ingin tahu anak-anak itu, tersimpan harapan untuk menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG) seperti siswa di sekolah lain. Sayangnya, hingga Jumat (16/10/2026), sejumlah sekolah di Kecamatan Langkahan masih belum tersentuh program tersebut.
“Saya sudah tidak sanggup lagi menjawab pertanyaan para siswa saat mereka bertanya, kapan kami dapat MBG,” tutur Rusli, yang juga menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu SD negeri di wilayah itu.
Bagi seorang guru, pertanyaan tersebut semestinya mudah dijawab jika kepastian sudah ada. Namun, ketika program yang dinantikan belum juga hadir, Rusli harus menghadapi kenyataan bahwa harapan anak-anak itu belum dapat ia berikan jawabannya.
Bukan hanya siswa yang menunggu. Sejumlah orang tua juga mempertanyakan alasan anak-anak mereka belum mendapatkan MBG. Di tengah kebutuhan untuk mendukung asupan gizi dan semangat belajar peserta didik, ketidakpastian tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi pihak sekolah.
Dua dari Enam Dapur Sudah Beroperasi
Penantian siswa di Langkahan berlangsung ketika sebagian masyarakat masih berupaya bangkit dari dampak banjir yang melanda wilayah tersebut pada 2025. Pemulihan kehidupan pascabencana bukan hanya tentang memperbaiki rumah dan memulihkan mata pencaharian, tetapi juga memastikan kebutuhan keluarga dan masa depan anak-anak tetap menjadi perhatian.
Di tengah situasi itu, kehadiran MBG diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk dukungan bagi peserta didik. Namun, harapan tersebut belum dirasakan secara merata.
Tokoh masyarakat Langkahan, Munawir, mengungkapkan bahwa dari enam dapur MBG yang telah dibangun di wilayah tersebut, baru dua yang beroperasi. Keduanya berada di Desa Simpang Tiga dan Desa Krueng Lingka.
Kondisi ini memunculkan harapan agar dapur-dapur lainnya segera difungsikan sehingga pelayanan dapat menjangkau lebih banyak sekolah dan siswa.
Pembangunan fasilitas menjadi langkah awal, tetapi manfaat program baru benar-benar dirasakan ketika dapur siap beroperasi dan makanan dapat disalurkan kepada para penerima manfaat.
Bagi sekolah-sekolah yang belum memperoleh layanan, kepastian mengenai kesiapan fasilitas dan jadwal operasional menjadi hal yang dinantikan.
Belasan Sekolah Masih Menanti
Berdasarkan keterangan Rusli, terdapat 12 sekolah di Kecamatan Langkahan yang disebut belum menerima program MBG. Sekolah-sekolah tersebut terdiri atas 10 sekolah dasar, tiga sekolah menengah pertama, dan satu sekolah menengah atas.
Adapun sekolah yang disebut belum menerima program itu meliputi SDN 2, SDN 4, SDN 5, SDN 8, SDN 9, SDN 10, SDN 12, SDN 13, SMPN 3, SMPN 4, SMPN 5, dan SMAN 2.
Bagi para siswa di sekolah-sekolah tersebut, MBG bukan sekadar program yang mereka dengar dari cerita orang lain. Mereka menantikan kesempatan untuk turut merasakan manfaat yang sama.
Sementara itu, bagi guru, penantian tersebut menghadirkan persoalan yang tidak sederhana. Mereka menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan pertanyaan siswa dan orang tua, meskipun keputusan mengenai pelaksanaan program berada di luar kewenangan sekolah.
Rusli dan Munawir berharap pemerintah serta Badan Gizi Nasional (BGN) segera mengambil langkah untuk mempercepat operasional dapur MBG yang belum berjalan.
Masyarakat juga mengharapkan adanya penjelasan mengenai penyebab keterlambatan, tahapan yang masih harus diselesaikan, serta target waktu agar sekolah-sekolah yang belum terjangkau dapat segera menerima layanan.
Harapan yang Tak Seharusnya Berlarut
Ada sesuatu yang menyentuh dari pertanyaan seorang anak tentang kapan ia bisa mendapatkan makanan bergizi gratis. Pertanyaan itu lahir dari harapan sederhana: memperoleh kesempatan yang sama dan merasakan manfaat program yang telah lama dinantikan.
Namun, ketika pertanyaan yang sama terus berulang tanpa jawaban pasti, harapan tersebut perlahan berubah menjadi penantian yang membebani mereka yang setiap hari mendampingi anak-anak itu belajar.
Di Langkahan, Rusli menjadi salah satu orang yang merasakan beban tersebut. Sebagai kepala sekolah sekaligus Ketua K3S, ia berada di antara harapan para siswa dan orang tua dengan kenyataan bahwa dirinya belum memiliki kepastian yang dapat disampaikan.
Karena itu, percepatan pelaksanaan MBG di Langkahan tidak cukup hanya dengan membangun dapur. Kesiapan fasilitas, kelengkapan operasional, dan kepastian penyaluran perlu dituntaskan agar program benar-benar menjangkau siswa yang menjadi sasaran.
Di tengah perjuangan masyarakat memulihkan kehidupan setelah banjir 2025, kebutuhan anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan memperoleh dukungan gizi tidak seharusnya terabaikan.
Kini, pertanyaan “Kapan kami dapat MBG?” masih menunggu jawaban yang nyata. Bagi anak-anak Langkahan, jawaban itu bukan sekadar janji atau penjelasan, melainkan kepastian kapan program tersebut benar-benar hadir di sekolah mereka.
Dan bagi Rusli, kepastian itulah yang mungkin dapat membuatnya kembali menjawab pertanyaan anak-anak dengan lebih tenang—bukan karena tak lagi ditanya, melainkan karena akhirnya ada jawaban yang bisa diberikan.***
Editor : Syahrul Usman

Tinggalkan Balasan