ACEH UTARA | PASESATU.COM — Belum kering lumpur yang mengendap di lantai rumah, warga sudah kembali bersiap menghadapi banjir berikutnya. Perabotan yang baru dibersihkan belum tentu sempat tertata rapi ketika air kembali masuk. Begitulah kehidupan yang harus dijalani masyarakat di sejumlah desa di sepanjang Krueng Peuto, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara.
Bagi warga di kawasan tersebut, banjir bukan lagi sekadar bencana musiman yang datang sesekali. Air yang meluap telah menjadi ancaman berulang, memaksa masyarakat berkali-kali membersihkan rumah, menyelamatkan barang-barang, hingga meninggalkan tempat tinggal demi mencari lokasi yang lebih aman.
Sepanjang tahun ini, dilaporkan telah dilanda banjir hingga sekitar 15 kali. Frekuensi yang begitu tinggi membuat warga seolah tidak memiliki cukup waktu untuk memulihkan kehidupan sebelum bencana berikutnya kembali datang.
Di balik penderitaan itu, ada persoalan yang hingga kini belum terselesaikan, tanggul sepanjang 15 meter yang jebol dan belum mendapatkan penanganan.
Kepala Dusun Blang, Desa Dayah LT, Ali Basyah, mengungkapkan bahwa kerusakan tanggul tersebut menjadi salah satu penyebab banjir terus berulang di permukiman warga. Kondisi itu diperparah oleh tingginya intensitas hujan di wilayah hulu Krueng Peuto.
“Tanggulnya jebol, 15 meter tanggul jebol. Sayang sekali masyarakat di sini, kadang-kadang hari ini sudah bersih, minggu depan sudah banjir lagi,” ujar Ali Basyah saat ditemui di lokasi banjir,Rabu (21/10/2026).
Pernyataan itu menggambarkan betapa beratnya kehidupan masyarakat yang harus menghadapi bencana berkali-kali. Bagi mereka, membersihkan rumah bukan lagi pekerjaan yang hanya dilakukan setelah banjir besar, melainkan kegiatan yang bisa kembali terulang dalam hitungan hari.
Setiap kali air datang, warga harus berhadapan dengan persoalan yang sama. Air menggenangi rumah, barang-barang rumah tangga terendam, sementara lumpur yang terbawa arus meninggalkan pekerjaan berat setelah banjir surut.
Ketinggian air yang memasuki permukiman warga bervariasi, mulai dari sekitar setengah meter hingga lebih dari satu meter. Genangan setinggi itu tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga mengancam perabotan, perlengkapan rumah tangga, dan barang-barang lain yang menjadi kebutuhan keluarga.
Penderitaan warga tidak berakhir ketika air mulai surut. Lumpur yang mengendap di dalam rumah dengan ketebalan kurang lebih setengah meter membuat proses pembersihan menjadi pekerjaan yang melelahkan.
Lantai rumah harus dibersihkan kembali. Lumpur harus dikeluarkan, barang-barang yang basah perlu dikeringkan, sementara perabotan yang rusak atau tidak dapat digunakan lagi harus disingkirkan.
Di tengah keterbatasan yang dihadapi, warga terpaksa mengerahkan tenaga untuk memulihkan kondisi rumah masing-masing. Namun, upaya itu terasa sia-sia ketika banjir kembali datang sebelum mereka benar-benar selesai membereskan dampak bencana sebelumnya.
Situasi tersebut membuat masyarakat hidup dalam ketidakpastian. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi di wilayah hulu, kekhawatiran akan datangnya banjir kembali menghantui warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai.
Sebagian warga bahkan terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman ketika air mulai menggenangi permukiman. Mereka harus meninggalkan rumah dan menghadapi ketidaknyamanan selama banjir berlangsung, sembari menunggu keadaan memungkinkan untuk kembali.
Bagi keluarga yang rumahnya berulang kali terendam, banjir bukan hanya persoalan air yang masuk ke dalam bangunan. Bencana itu juga menyita waktu, tenaga, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan secara normal.
Di tengah banjir yang terus berulang, kerusakan tanggul sepanjang 15 meter menjadi persoalan yang mendesak untuk ditangani.
Tanggul yang belum diperbaiki membuat warga khawatir ancaman serupa akan terus menghampiri permukiman mereka. Terlebih, ketika hujan deras mengguyur wilayah hulu, debit air sungai dapat meningkat dan memperbesar risiko banjir di kawasan yang terdampak.
Bagi masyarakat setempat, perbaikan tanggul bukan sekadar pekerjaan infrastruktur. Lebih dari itu, perbaikan tersebut merupakan kebutuhan mendasar agar warga dapat tinggal dengan lebih tenang, tanpa terus-menerus dibayangi ancaman air yang sewaktu-waktu memasuki rumah mereka.
Warga membutuhkan perlindungan agar rumah yang telah dibersihkan tidak kembali dipenuhi lumpur. Mereka juga membutuhkan kepastian bahwa kerusakan yang selama ini dikeluhkan tidak dibiarkan berlarut-larut.
Sebab, semakin lama tanggul dibiarkan dalam kondisi jebol, semakin panjang pula ketidakpastian yang harus ditanggung masyarakat.
Persoalan ini, menurut Ali Basyah, bukan berarti tidak pernah disampaikan kepada pemerintah.
Pihak pemerintah desa bersama kepala desa telah berupaya melaporkan kejadian banjir kepada pihak kecamatan maupun pemerintah kabupaten setiap kali bencana terjadi. Laporan tersebut diharapkan dapat mendorong penanganan, terutama terhadap tanggul yang rusak dan menjadi salah satu penyebab banjir berulang.
Namun, hingga saat Ali Basyah memberikan keterangan, masyarakat mengaku belum melihat tindak lanjut nyata yang mereka harapkan.
Di tengah kondisi tersebut, warga hanya bisa bertahan menghadapi banjir yang terus berulang. Mereka membersihkan rumah setiap kali air surut, menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan, dan bersiap menghadapi kemungkinan datangnya banjir berikutnya.
Bagi masyarakat Desa Dayah LT dan kawasan di sepanjang Krueng Peuto yang terdampak, persoalan ini membutuhkan perhatian lebih dari sekadar pendataan dan pelaporan. Mereka menantikan tindakan nyata untuk mengatasi penyebab banjir agar penderitaan yang sama tidak terus berulang.
“Harapan kita supaya pemerintah, ada perhatianlah untuk masyarakat kami,” kata Ali Basyah.
Harapan itu sederhana: tanggul yang jebol segera diperbaiki, banjir tidak terus-menerus memasuki rumah, dan warga bisa kembali menjalani kehidupan tanpa dihantui kecemasan setiap kali hujan turun.
Banjir yang dilaporkan terjadi hingga sekitar 15 kali dalam setahun menjadi gambaran beratnya beban yang harus ditanggung masyarakat. Ketika bencana datang berulang kali, kemampuan warga untuk memulihkan kondisi rumah dan kehidupan sehari-hari semakin terkuras.
Pemerintah daerah diharapkan segera meninjau kondisi tanggul yang jebol sepanjang 15 meter tersebut, memastikan penyebab banjir, serta mengambil langkah penanganan yang diperlukan.
Perbaikan tanggul menjadi salah satu kebutuhan mendesak yang disuarakan warga. Selain itu, diperlukan penanganan banjir secara menyeluruh di sepanjang Krueng Peuto agar masyarakat tidak terus menghadapi persoalan yang sama setiap kali hujan deras mengguyur wilayah hulu.
Bagi warga, persoalan ini bukan semata-mata tentang tanggul yang rusak atau air yang menggenangi rumah. Ini tentang kehidupan yang berkali-kali terganggu, tenaga yang terus terkuras untuk membersihkan lumpur, dan rasa aman yang sulit didapatkan di rumah sendiri.
Selama tanggul belum diperbaiki dan ancaman banjir masih membayangi, masyarakat akan terus hidup dalam penantian: menunggu air surut, membersihkan rumah, lalu berharap hujan berikutnya tidak kembali membawa penderitaan yang sama.
Kini, warga berharap penantian itu tidak berlangsung lebih lama. Mereka membutuhkan kehadiran pemerintah dan langkah nyata agar rumah-rumah yang selama ini berkali-kali terendam dapat kembali menjadi tempat yang aman untuk berlindung.
Dilaporkan akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah Aceh Utara pada Rabu malam (21/10/2026) menyebabkan jalan lintas Cot Girek–Lhoksukon, tepatnya di kilometer 5 hingga kilometer 6, terendam banjir. Ketinggian air di badan jalan diperkirakan mencapai 20 hingga 40 sentimeter.
Selain menggenangi badan jalan, luapan Sungai Krueng Peuto juga merendam ratusan rumah warga di sejumlah desa, yakni Buloh LT, Meunasah Teungoh LT, Dayah LT, dan Krueng LT. ***
Tinggalkan Balasan