ACEH | PASESATU.COM – Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan wajah jurnalistik di era digital, organisasi wartawan membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin administratif. Dibutuhkan sosok yang memahami denyut kehidupan pers, dekat dengan anggotanya, serta mampu menjaga profesionalisme dan independensi di tengah berbagai tantangan.
Harapan itulah yang mengemuka ketika Sayuti Achmad, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Lhokseumawe, menyerahkan berkas pencalonan sebagai bakal calon Ketua PWI Aceh periode 2026–2031.
Langkah Sayuti memasuki kontestasi kepemimpinan organisasi wartawan tingkat provinsi tersebut mendapat dukungan dari Dr. Bukhari, M.H.CM, advokat LBH Qadhi Malikul Adil. Bagi Bukhari, pencalonan Sayuti bukan sekadar tentang pergantian kepemimpinan, melainkan juga tentang harapan terhadap masa depan organisasi pers di Aceh.
Bukhari melihat pengalaman Sayuti di dunia jurnalistik dan organisasi sebagai modal penting untuk membawa PWI Aceh menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Rekam jejaknya memimpin PWI Aceh Utara dan PWI Kota Lhokseumawe dinilai menjadi bekal dalam memahami kebutuhan wartawan sekaligus mengelola dinamika organisasi.
“Saya menilai Sayuti Achmad layak memimpin PWI Aceh periode 2026–2031. Ia memiliki pengalaman jurnalistik dan organisasi yang menjadi bekal penting untuk membangun PWI yang profesional, solid, dan berintegritas,” ujar Bukhari.
Bagi Bukhari, pengalaman tersebut memiliki arti penting. Sebab, memimpin organisasi profesi wartawan bukan hanya soal menjalankan program kerja atau mengatur kepengurusan. Lebih dari itu, seorang ketua harus mampu menyatukan beragam kepentingan, membangun kepercayaan anggota, dan memastikan organisasi tetap berpijak pada nilai-nilai jurnalistik.
Ketika Dunia Pers Berubah dengan Cepat
Dunia jurnalistik hari ini bergerak dalam tempo yang jauh berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Informasi menyebar dalam hitungan detik, batas antara fakta dan opini kerap kabur, sementara wartawan dituntut tetap bekerja dengan standar profesional di tengah persaingan media yang semakin ketat.
Dalam situasi seperti itu, keberadaan organisasi profesi menjadi semakin relevan. Wartawan tidak hanya membutuhkan ruang untuk berhimpun, tetapi juga wadah untuk meningkatkan kompetensi, memperkuat etika, dan memperoleh perlindungan ketika menjalankan tugas jurnalistik.
Di sinilah, menurut Bukhari, kepemimpinan PWI Aceh mendatang akan diuji.
Ketua yang terpilih nantinya harus mampu menerjemahkan kebutuhan anggota menjadi program yang nyata. Kemerdekaan pers perlu diperjuangkan, kualitas sumber daya wartawan harus terus ditingkatkan, dan marwah profesi jurnalistik mesti dijaga agar kepercayaan masyarakat terhadap pers tetap terpelihara.
Tugas itu tidak ringan. Sebab, di tengah derasnya arus informasi digital, wartawan dituntut bekerja lebih cermat dalam memeriksa fakta, menjaga keberimbangan, serta mempertanggungjawabkan setiap informasi yang disampaikan kepada publik.
Bukhari menegaskan bahwa wartawan memiliki tanggung jawab besar dalam menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, PWI harus mampu menjadi rumah bersama bagi para wartawan sekaligus tempat tumbuhnya profesionalisme dan solidaritas.
Pengalaman dan Kemampuan Merangkul
Pengalaman memimpin PWI di tingkat kabupaten dan kota menjadi salah satu alasan Bukhari memandang Sayuti sebagai figur yang patut diperhitungkan. Pengalaman tersebut, menurutnya, dapat menjadi bekal untuk memahami persoalan anggota dari dekat dan memperkuat komunikasi antarpengurus.
Namun, kepemimpinan organisasi tidak cukup hanya bertumpu pada pengalaman. Kemampuan mendengarkan, merangkul perbedaan, dan membangun kebersamaan juga menjadi bagian penting dari perjalanan seorang pemimpin.
Bagi organisasi yang menaungi wartawan dengan beragam latar belakang, persatuan merupakan modal yang tidak bisa diabaikan. Perbedaan pandangan semestinya menjadi ruang bertukar gagasan, bukan alasan untuk memperlebar jarak di antara sesama insan pers.
“PWI membutuhkan pemimpin yang memahami dunia jurnalistik, dekat dengan anggotanya, dan mampu merangkul berbagai kalangan. Pengalaman Sayuti Achmad memimpin organisasi di tingkat kabupaten dan kota menjadi nilai tambah untuk memperkuat konsolidasi PWI di seluruh Aceh,” kata Bukhari.
Harapan terhadap konsolidasi tersebut menjadi penting karena kekuatan organisasi tidak semata-mata diukur dari struktur kepengurusan, tetapi juga dari hubungan yang terbangun antara pemimpin dan anggotanya. Organisasi yang solid membutuhkan komunikasi yang terbuka, program yang menyentuh kebutuhan wartawan, serta komitmen bersama untuk menjaga kehormatan profesi.
Dalam konteks itu, kepemimpinan PWI Aceh periode 2026–2031 diharapkan mampu menghadirkan ruang kolaborasi yang lebih kuat bagi wartawan di berbagai daerah.
Kontestasi yang Semestinya Mengedepankan Gagasan
Menjelang pemilihan Ketua PWI Aceh periode 2026–2031, Bukhari berharap proses demokrasi organisasi berlangsung secara bermartabat. Kontestasi, menurutnya, perlu menjadi kesempatan bagi para calon untuk menunjukkan kapasitas dan menawarkan gagasan terbaik bagi kemajuan PWI.
Sebab, yang dipertaruhkan dalam pemilihan tersebut bukan semata-mata posisi ketua, melainkan arah perjalanan organisasi selama lima tahun mendatang.
PWI Aceh membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjawab persoalan nyata di lapangan, memperkuat solidaritas wartawan, dan menjaga independensi pers. Pada saat yang sama, organisasi juga perlu terus mendorong peningkatan kompetensi anggotanya agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.
Bukhari berharap pemimpin yang terpilih nantinya mampu menjadikan PWI sebagai organisasi yang semakin profesional, terbuka, dan mampu menyatukan seluruh insan pers di Aceh.
“Pers yang kuat lahir dari wartawan yang profesional dan organisasi yang solid. Kita berharap PWI Aceh dipimpin figur berpengalaman, berintegritas, dan mampu menyatukan seluruh insan pers demi kemajuan jurnalistik di Aceh,” tutupnya.
Dukungan Bukhari terhadap Sayuti Achmad menjadi bagian dari dinamika menjelang pemilihan Ketua PWI Aceh. Namun, di balik dukungan terhadap seorang calon, tersimpan harapan yang lebih besar: lahirnya kepemimpinan yang mampu merawat kebersamaan sekaligus membawa perubahan bagi organisasi.
Pada akhirnya, tantangan seorang ketua bukan hanya memenangkan kepercayaan dalam forum pemilihan, melainkan membuktikan kepercayaan itu melalui kerja nyata. Sebab, masa depan pers Aceh tidak hanya bergantung pada siapa yang duduk di kursi kepemimpinan, tetapi juga pada kemampuannya menjaga integritas, memperkuat profesionalisme, dan memastikan suara wartawan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi.
Di tengah dunia informasi yang terus bergerak, PWI Aceh membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya memahami perjalanan pers selama ini, tetapi juga mampu menyiapkan organisasi menghadapi tantangan yang akan datang.***
Tinggalkan Balasan